Jumat, 22 Maret 2013

Paspor Online

Mau cerita dikit nih pengalaman ngurus Paspor Online. Mencoba menjadi warga negara yang baik. Dan tidak memberi ruang untuk korupsi!! SAY NO TO KORUPSI!! *jadi serius gini*

Paspor gue April 2013 sudah habis masa berlakunya, untuk kepentingan apabila ada urusan mendadak overseas (anjir, kayak orang berduit aje), jadilah mau perpanjang bulan Maret ini. Karna selama bikin paspor (punya sendiri, Ayah-Mama, Dewa, bahkan Adia) selalu menggunakan perantara calo, yang relatif jauh lebih mahal, jadi-lah untuk urusan perpanjang ini, coba urus sendiri. *padahal mah biar hemat aje*

Coba googling baca pendapat orang-orang tentang bagaimana sih bikin Paspor Online. Dan jawabannya sungguh membuat nyaman. "Praktis", "Cepat", "Murah", "Gampang", "Gak Ribet", dan semua nada positif lainnya. Tapi ada satu yang mereka lupa, harusnya pas sharing juga dikasih tau hal yang sangat penting, dan patut di bold serta di garis-bawahi: DATANG SAAT KANTOR IMIGRASI BARU BUKA.

Gue ceritakan pengalaman pribadi ya, biar pada gak terlalu terbuai sama kemudahan Paspor Online.

Paspor Online apaan sih?

Kalo diliat dari namanya, tampak keren ya? Yang ada di bayangan gue, ini ngurus semua lewat internet aja. Dari mulai mengajukan aplikasi, hingga bayar. Jadi dateng ke Kantor Imigrasi saat foto, sidik jari dan wawancara aja. Kalo emang begitu, sangat praktis, sesuai namanya. Gak perlu antri lama di  Kantor Imigrasi, gak perlu nolak-nolakin calo yang nawarin jasa. Tapi gak begitu kenyataanya.

Cara mengajukan Paspor Online yang normal:

1. Buka situs www.imigrasi.go.id,
2. Klik "Daftar Paspor Online",
3. Pilih Paspor 48H (karna 24H udah gak ada, khusus TKI), lanjut isi semua keterangan yang dibutuhkan, seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir, nomer paspor lama (kalo perpanjang), nama orangtua, pasangan, dll.
4. Scan 3 item WAJIB: Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, dan 1 diantara Akte Kelahiran atau Ijazah atau Surat Menikah. Lalu upload di tempat yang disediakan.
5. Print Konfirmasi Pendaftaran Online.
6. Datang ke Kantor Imigrasi sebelum jam 11.00, karna setelah itu akan ditutup.

Jadi bikin Paspor Online cuma buat daftar doang, ujung-ujungnya sama kayak bikin paspor manual, ngantri juga, nolakin calo juga. Jauh dari ekspektasi gue ternyata. Ciihh! *muka belagu*

Penjelasan singkat ngajuin Paspor Online sama Manual:

Manual:
- Datang ke Kantor Imigrasi, isi Formulir Pengajuan dan Surat Pernyataan (ini gratis, tapi perlu 1 materai Rp6000 untuk ditempel di Surat Pernyataan), masukin berkas (fotokopi KTP, KK, Akte kelahiran/Ijazah/SuratNikah, Formulir Pengajuan, Surat Pernyataan, Paspor Lama) ke loket pendaftaran.
- 3 hari kemudian, balik lagi ke Kantor Imigrasi untuk ke loket pembayaran, bayar Rp200.000 buat buku paspor plus Rp55.000 biaya foto (total Rp255.000), lalu nunggu giliran di loket foto-wawancara.
- 4 hari kemudian, balik ke Kantor Imigrasi untuk pengambilan paspor.

Online:
- Daftar melalui situs www.imigrasi.go.id, isi semua data yang diperlukan serta tanggal kedatangan ke Kantor Imigrasi.
- Sesuai jadwal sewaktu daftar online, dateng ke Kantor Imigrasi, untuk isi Formulir Pengajuan dan Surat Pernyataan, masukin berkas (fotokopi KTP, KK, Akte kelahiran, Formulir Pengajuan, Surat Pernyataan) ke loket online. Lanjut dapet nomer antrian untuk ke loket pembayaran (yang Rp255.000), lalu nunggu giliran foto-wawancara.
- 4 hari kemudian, balik ke Kantor Imigrasi untuk pengambilan paspor.

Ada yang liat bedanya? Apa yang menjadi keunggulan Paspor Online?

1. Paspor Online hanya cukup 2 kali bolak-balik ke Kantor Imigrasi (urus seharian, ambil paspor). Sedangkan Paspor manual harus 3 kali bolak-balik (masukin berkas, bayar-foto-wawancara, ambil paspor)

2. Paspor Online punya loket sendiri, "Loket Online".

Sisanya? SAMI MAWON :))

1. Sama- sama ngisi Formulir Pengajuan dan Surat Pernyataan (bermaterai).

2. "Loket Pembayaran" yang sama.

3. "Loket Foto-Wawancara" yang sama.

4. Sama-sama ngantri 3 kali:
- Ngantri masukin berkas (bahkan kemaren "Loket Pendaftaran" Manual ada 4, sedangkan "Loket Online" cuma ada 1).
- Ngantri bayar Rp255.000.
- Ngantri foto-wawancara.

Keliatan ya bedanya? Cuma gitu doang :))

Okeh, lanjut cerita pengalaman pribadi kemaren perpanjang paspor ya..

Setelah googling tadi, akhirnya memutuskan untuk membuat Paspor Online, mau tau kayak gimana prosesnya. Biar ada bahan buat nge-blog juga sih.

1. Daftar ke www.imigrasi.go.id.
Isi semua kolom wajib, lalu upload scan-an KTP dan KK. Karna Ijazah entah kemana, dan Surat Nikah merupakan surat "menyeramkan" yang mengubah hidup (apa sih ini alasannya), jadi yang gue upload adalah Akte Kelahiran. Setelah beres, isi kolom Kantor Imigrasi mana yang mau gue datengin, dan waktu kedatangan (di kolom pilihan, maksimal kedatangan 7 hari setelah pendaftaran. Jadi gak bisa daftar sekarang, baru dateng 10 tahun lagi *lebay*). Catatan nih, dulu kalo gak salah, KTP itu berpengaruh dimana kita bikin paspor. Misal KTP-nya Jakarta Tenggara, maka bikin di Kantor Imigrasi Jakarta Tenggara juga. Sekarang udah bebas aja tuh, meski KTP Jakarta Timur Laut, bisa bikin di Kantor Imigrasi Jakarta Barat Daya. *pusing-pusing deh lu*

2. Dateng ke Kantor Imigrasi.
Karna gue pikir ketentuan masih lama, akhirnya gue pilih Kanim Jakarta Timur, tempat bikin paspor lama. Sebelum berangkat, perlengkapan yang mesti dibawa, biar disana gak perlu cari-cari lagi:
a. Dokumen:
- Print Konfirmasi Pendaftaran Online
- Asli dan Fotokopi KTP (kertas A4, 1 halaman aja, bukan fotokopi bolak-balik),
- Asli dan Fotokopi KK,
- Asli dan Fotokopi dokumen Akte Kelahiran / Ijazah / Surat Nikah yang di upload saat daftar online,
- Asli dan Fotokopi Paspor lama
b. Lain-lain:
- Pulpen warna hitam (untuk mengisi Formulir Pengajuan dan Surat Pernyataan),
- Materai Rp6.000 untuk Surat Pernyataan (disana harganya Rp7.000, mayan hemat Rp1.000 bakal gorengan),
- Uang Rp255.000 buat bayar,
- Charger handphone,
- Perlengkapan pencegah kebosenan menunggu,
- Uang lebih buat jajan. Kalo emang merki, ya bawa aja bekal dari rumah. Dasar Padang lu.

3. Ambil Formulir.
Sesampainya di kantor imigrasi, langsung ambil Formulir Pengajuan dan Surat Pernyataan (ini gratis). Gak ngantri juga. Ada meja untuk mengisi. Lengkapin semua kolom yang ditanyakan.

4. Ambil antrian untuk ke "Loket Online".
Perlihatkan Formulir yang udah diisi di step 3 diatas, baru boleh ambil nomer antrian-nya. Di loket ini, semua dokumen akan diserahkan, antara lain:
- Print Konfirmasi Pendaftaran Online,
- Formulir Pengajuan,
- Surat Pernyataan,
- Fotokopi KTP,
- Fotokopi KK,
- Fotokopi Akte Kelahiran / Ijazah / Surat Nikah sesuai yang di upload,
- Asli dan fotokopi Paspor Lama,
Setelah diserahkan, akan dapet secarik kertas kalo semua berkas udah masuk, proses dilanjutkan.

5. Ambil antrian untuk ke "Loket Pembayaran".
Di sini, secarik kertas tadi dijadikan penukaran untuk mengambil nomer antrian. Bayar Rp255.000, lalu langsung mendapatkan kwitansi dan nomer antrian untuk ke loket selanjutnya.

6. Menunggu di loket "Foto dan Wawancara".
Saat dipanggil nomer antrian, kita akan di ambil sidik jari-nya dan difoto (jadi kalo mau ngajuin, pake baju yang bagus, mayan kan buat 5 taun kedepan. Kalo perlu ke salon dulu. Auah). Setelah itu kembali menunggu nama dipanggil untuk proses Wawancara. Cuma ditanya-tanya, tinggal dimana, mau kemana bikin paspor, buat apaan, dll. Sekitar 5-10 menitan.

7. Pulang.
Proses udah selesai, dipersilakan pulang. Untuk kemudian datang di hari yang ditentukan oleh pewawancara (biasanya 4 hari), mengambil paspor yang telah selesai.

WAAAAHHH.. CEPAT SEKALI YAAAA???!!

Lupa ya gue cantumin waktu?? Pffftt..

Oke, akan cerita dengan detail menggunakan waktu ya.

- Jumat, 15 Maret 2013, ajukan aplikasi online sekitar pukul 13.00.
- Selasa, 19 Maret 2013, berangkat santai. Namanya juga ajukan Paspor Online, yang kata banyak orang "Praktis", "Cepat", "Murah", "Gampang", "Gak Ribet". Karna deadline jam 11.00, kayak biasa aja sehari-hari.
- 09.30. Baru berangkat dari kantor.
- 10.30 nyampe Kanim Jakarta Timur, ngisi formulir.
- 10.50 nyaris kelewat deadline, dapet antrian nomer 297 di loket online, sedangkan di loket manual antrian baru 140an dan dilayani 4 loket.
- 12.00 baru masukin berkas, dikasih secarik kertas dan disuruh ke Loket Pembayaran jam 14.30. Eng-ing-eng. Ngapain ini 2,5 jam mati gaya? Akhirnya cari makan, keluar dulu.
- 14.30 tepat gue ke Loket Pembayaran dan ngambil nomer antrian, 703. Tau gak, saat itu, baru nomer berapa? 630an. Jadi sebelum gue masih ada 70an orang lagi.
- 16.15 baru dipanggil. Bayar Rp255.000. Terus dapet nomer antrian 997 akhir di Loket Foto-Wawancara. Pas liat antrian saat itu, masih nomer 905an. Artinya, ada sekitar 90an orang lagi.
- 18.45 akhirnya nomer gue dipanggil, untuk foto dan pengambilan sidik jari. Aaahh.. Finallyy..
BELOOOOMMM.. Masih nunggu lagi buat nama dipanggil wawancara.
- 19.20 nama dipanggil, wawancara 5-10 menitan.
- 19.30 Ke parkiran, bergegas pulang. Dengan badan yang mau capek fisik dan mental.

Liat dah, berapa jam proses menggunakan Paspor Online? 9 JAM!! Busyet -_-

Saking bosennya gue nunggu di Kanim Jakarta Timur, sempet keluar, mancing para calo buat ngedeketin dan nawarin, akhirnya ada nih satu yang nyamperin:
Calo (C): "Mau dibantu Pak?"
Gue (G): "Dibantu apaan ya Bang?"
C: "Upilin idung elu!!"
C: "Bikin paspor"
G: "Oh, emang bisa sama Abang?"
C: "Bisa. Mau yang jadi 2 hari apa seminggu?"
G: "Kalo jadi 2 hari berapa, seminggu berapa? Saya mau bandingin aja Bang"
C: "Kalo 2 hari itu 1,5 juta. Seminggu bisa 650 ribu. Nanti Bapak tinggal foto sama wawancara aja gak usah antri"
G: "Busyeeett.. Mahal amat Bang?? Gak bisa goceng aja??"
C: "NGAJAKIN RIBUT LU NAWAR SEGITU??!! Iya, sekarang udah makin susah birokrasi-nya"
G: "Oke Bang, saya pikir-pikir dulu yak. Duit saya gak ada segitu, tapi saya males juga nih nunggu lama amat dari tadi".
C: "Ya, nanti cari saya aja, sampe sore koq disini".
G: "Sip bang, makasih yak".

Dari percakapan ngehe diatas, gila ya bedanya, jauh banget. Yang normal aja bisa hampir bikin 3 paspor kalo ngurus sendiri. Yang ekspres bisa sampe bikin 6 paspor!! Ya tapi keuntungan, gak perlu repot ngantri dan ngurus kesana-kemari. Tinggal duduk manis nunggu giliran foto-wawancara. Ada calo di sana juga sebenernya menuhin permintaan pasar. Karna banyak pasti yang gak mau waktunya kesita seharian kayak gue kemaren buat ngurus paspor doang. Pertanyaan besarnya: "Pilih Mana? Waktu Kebuang apa Uang Kebuang?"

Gak perlu jawab, bisa koq menghindari dua-duanya. Tips dari gue ngurus paspor sendiri:

1. Tetap Gunakan Fasilitas Paspor Online.
Lumayan bisa hemat ongkos, waktu, dan tenaga. Cuma perlu 2 kali ke Kantor Imigrasi. Ngurus seharian, dan ngambil paspor di kemudian hari.

2. Dokumen Semua Siap.
Liat diatas, apa aja yang perlu dibawa pas ke Kantor Imigrasi. Biar gak perlu bolak-balik fotokopi atau cari pulpen/materai segala. Tinggal ambil nomer antrian, ngantri, proses. Ambil nomer antrian, ngantri, proses.

3. Dateng Pagi Pas Baru Buka.
Ini yang paling PENTING. Dan dilupakan untuk disharing oleh para temen-temen yang udah nyoba Paspor Online. Karna percuma aja kalo dateng siang kayak gue, beresnya sampe malem kayak gitu.

4. Maintain Your Expectation.
Ekepektasi gue, Paspor Online itu gampang, jalur-nya beda sama manual. Ternyata salah. Ekspektasi gue, sore juga udah bisa pulang, karna cepet kalo online. Ternyata salah. Begitu pula nanti elo kalo setelah baca blog ini. Mungkin cerita ini gak sinkron sama keadaan Kantor Imigrasi tempat elo bikin nanti.

Kalo kata salah satu petugas kemaren, dia bilang gini: "Siapin waktu seharian Pak kalo mau ngurus paspor". Dan gue sepakat sama hal itu. Bikin di otak elo, kalo ngurus ini seharian. Jadi emang udah persiapan buat menghadapinya. Karna serius, 9 jam buat bikin paspor, dengan ekspektasi bakal beres hanya dalam 4-5 jam, itu gak enak banget :))

Sekian sharing dari saya.

Dengan Rahmat Allah yang Maha Kuasa,

Wassalammualaikum..



Jatinegara Keras Braaayy..

Minggu, 17 Maret 2013

Kenapa Suami Perlu Belajar Ngurus Anak?

10 Oktober 2010. Tanggal dimana Dewa diprediksi lahiran untuk pertamakalinya oleh Dokter Erwin.

9 bulan sebelumnya, kami sangat menikmati masa-masa kehamilan. Dewa mempunyai banyak privilege, ngantri diutamakan, naik angkutan umum juga dipersilakan duduk. Gue sendiri juga sangat membangga-bangga-kan perut dia yang makin lama membesar kalo lagi bepergian atau sekedar kumpul bersama teman-teman. "GARA-GARA GUE TUH!", teriak dalam hati. Mengabadikan perut besar, di berbagai spot, sampe bela-bela-in foto di studio me-mamer-kan kehamilan. Menyenangkan.

Beberapa minggu mendekati hari-H, baru mulai membeli perlengkapan untuk bayi. Ada beberapa temen yang mau meng-hadiah-i kami, diberikan jatah masing-masing. Ada yang patungan beli stroller, sampe babybox. Sisanya beli sendiri. Dengan perut yang semakin besar, terus bedua-an ke toko perlengkapan bayi, milih-milih barang. Meski menguras cukup banyak biaya, sekali lagi, menyenangkan.

Tiba saatnya Dewa masuk ruangan untuk melahirkan. 101010 adalah tanggal yang cantik bagi sebagian orang, jadi waktu itu sebenernya sudah ada antrian, beberapa Ibu Hamil memilih untuk operasi demi tanggal. Karna Dewa mencoba melahirkan tanpa operasi, jadi lebih diutamakan oleh pihak rumah sakit. Meski mendapat tatapan tajam dari mereka, tidak mengurangi ke-antusias-an gue untuk menemani kedalam ruangan. Yes, mau merasakan sensasi yang kata orang "Elo akan semakin menghormati wanita setelah melihat perjuangan melahirkan".

Tangan digenggam dengan keras, sakit hati saat mencoba menghibur tapi malah dibentak: "Udah deh kamu diem aja, gak lucu!!", rasanya gak ada apa-apa-nya dibanding perjuangan melahirkan. Gue liat langsung bayi keluar dari badan Dewa? TENTU TIDAK. Cukup ada di sampingnya, muka menghadap perut sampai kepala. Perut kebawah saya serahkan kepada ahlinya. Ha-Ha-Ha. Maap ya. Saya takut darah.

Oke lupakan.

Akhirnya terdengar suara tangisan keras, sesosok mahluk bernama Kei Radhiyya Akbar (Adia) terlahir di dunia ini. ANAK GUE ITU!! ANAK GUE!!

Setelah dibersihkan dan melakukan Inisiasi Menyusui Dini, kemana Adia berada, selalu gue ikutin. Di kepala ini terngiang-ngiang judul sinetron "Bayi Yang Tertukar", judul yang cukup membawa efek psikologis berupa ke-parno-an. Bukan hanya gara-gara itu, tapi somehow, gue masih terpukau saat itu udah punya anak, jadi selalu pengen ada dideketnya. Anak baru lahir itu kayak magnet, selalu "menarik" kita untuk mendekat.

Euforia kelahiran. Tamu berdatangan. Dari mulai orangtua, Kakak, Adik, Om, Tante, sepupu, teman, berdatangan silih berganti mengucapkan "Selamat ya Bagol dan Dewa". 2-3 hari dirumah sakit, sensasi yang kami rasakan sangat luar-biasa nikmat-nya.

Gue gak tau, saat masih di Rumah Sakit, ternyata perjuangan BELUM dimulai.

Disana, kalo misalnya Gue-Dewa kecapean, tinggal manggil suster. Kalo ada hal-hal yang gak berani kami lakukan terhadap Adia, tinggal manggil suster. Apapun, tinggal manggil suster.

Perjuangan dimulai saat udah menjejak-kan kaki dirumah. Saat kami cuma dibantu Asisten Rumah Tangga, yang notabene gak punya pengetahuan medis seperti suster-suster tersebut. JENG-JENG.

Sempet kesel sama diri-sendiri, karna tidak memanfaatkan waktu 9 bulan masa kehamilan untuk cari tau "Nanti setelah anak lahir, gimana?". Kesel karna masa itu cuma gue habiskan untuk "me-mamer-kan" kalo istri udah hamil. Kesel karna GUE GAK TAU APA-APA.

ASI Dewa beberapa hari pertama agak seret, sampe Adia dinyatakan kena kuning karna bilirubin tinggi, jadi harus kembali di-inap-kan. Gue gak tau kalo ASI itu emang harus dipelajari, gak keluar begitu aja seperti apa yang selama ini gue pikirkan. Gue gak tau kalo Dewa sedih/stres karna tekanan dari pihak rumah sakit yang sempet bilang: "Ibu gimana sih anak lagi kekurangan cairan, gak dikasih susu aja, padahal ASI masih sedikit??!!", malah bikin ASI tambah seret. Gue gak tau kalo ternyata ASI itu boleh di-donor-kan.

Kalo gue tau, mungkin akan banyak belajar gimana biar ASI lancar, bakal bikin Dewa seneng terus, manjain dia biar ASI keluar deras, atau akan mencoba minta ASIP Kak Amel yang masih banyak banget di freezer kulkas, sehingga ada "pengganti" untuk sementara dan memberikan efek psikologis "Adia gak akan kekurangan cairan" selama Dewa struggling menghasilkan ASI lebih banyak. Itu kalo gue tau. Masalahnya, gue gak tau.

Untuk hal ngurus bayi lainnya, untungnya gue punya Ayah dan Abang Ipar yang "megang" banget sama bayi. Ayah yang urus Raka, ponakan gue kalo Kakak-Abang kerja. Dari mulai mandi-in, ajak maen, nyuapin ASIP/makanan, dll. Abang begitu pula. Pulang kantor dia gak risih untuk berdua doang pergi sama Raka cuma buat nemenin dia yang lagi pengen makan nasi goreng, sekaligus ngasih kesempatan Kakak buat istirahat/mompa. Di weekend, mandi udah pasti Abang yang mandi-in, dia yang nyuapin MPASI. Bagian nyusuin urusan Kakak. I have a great example of being a Dad, from them. Ego lelaki didalam diri ini yang ngomong: GUE GAK MAU KALAH DARI MEREKA.

Tapi gak banyak yang beruntung kayak gue, yang punya contoh konkret didepan mata. Atau punya ego yang cukup besar. Masih banyak, bahkan di teman-teman sendiri, yang menganggap jadi Ayah ya gitu aja. Jadi Ayah ya berarti punya anak. Masalah ini anak siapa yang ngurus nantinya, belakangan aja di pikirin, yang penting udah jadi Ayah. Sampe pada puncaknya, ada kalimat yang menggelitik dari salah satu temen cowok, waktu bekas kantor gue lagi anniversary, dan cuma dateng berdua sama Adia karna Dewa ada urusan. "Elo cuma berdua doang sama Adia? Dewa kemana? Koq elo yang ngurus sih? Kan anak itu tanggung-jawab istri, kita mah fokus aja cari duit". JEGER. Masih ada loh yang mikir begini :)

Kalo nyambungin sama cerita temen-temen cewek Dewa yang sering curhat, kalo suami-nya gak dukung dia ngasih ASI, misalnya dengan udah beli susu formula tanpa persetujuan, gak mau gantian begadang biar ngasih kesempatan Ibu Menyusui untuk beristirahat. Atau suami-nya gak pernah mau mandi-in anak sendiri. Kalo mandi-in aja gak mau, boro-boro mau bersihin pup-nya kan.

Atau gampangnya, liat deh status Facebook atau tweet para istri menikah dan punya anak, yang orangnya cukup emosional. Gak jarang mereka nulis sesuatu yang cukup negatif, dan membuat kita kepo dan berpikir: "Lagi kenapa ini orang di rumah tangga-nya? Marah-marah mulu". Karna, gue pribadi sangat yakin, selama aura di rumah elo positif dan menyenangkan, aura negatif kayak marah-marah gak akan terjadi (kalopun terjadi, gak akan sampe diumbar ke publik lewat media sosial).

Yang berujung apa? Istri merasa menikahi pria yang salah!! BE-RA-BE.

Sebagai seorang suami, sebagai seorang kepala keluarga, itu tanggung jawab BESAR kita loh :))

Mulai dari hal kecil yang kecil aja yuk, biar itu semua gak terjadi. BELAJAR NGURUS ANAK.

Makanya tadi gue bilang cukup kesel sama diri-sendiri, gak belajar apapun tentang gimana situasi waktu anak lahir. Saking gengsinya, gak mau nanya-nanya bahkan ke Kakak atau temen deket sendiri, cara ngurus anak begimana. Semua gue serahkan ke Dewa. Dia yang cari info tentang ASI, dia yang gabung ke milis ini, milis itu tentang parenting world. Gue santai-santai aja, mungkin itu juga yang mayoritas suami lakukan kayaknya. "Ah, nanti juga bisa sendiri koq, selow".

Selama belom punya anak, apa-apa semua dilakukan masing-masing. Karna punya urusan sendiri kan tiap pasangan. Emang ada beberapa yang perlu didiskusikan juga, namanya udah jadi suami-istri. Tapi gak akan sebesar kalo punya tanggung jawab bersama dalam bentuk anak. Udah punya anak, gaya hidup pasangan suami-istri pasti akan berubah. Yang paling kerasa, waktu yang banyak kesita. Udah gak bisa nongkrong dengan bebasnya sama temen-temen, udah gak bisa pacaran nonton bioskop seharian penuh sama istri. Dan lain-lain. Just admit it :)

Sehingga, punya anak akan menjadi 2 sisi mata uang yang berlawanan. Di satu sisi, punya anak dapat mempererat hubungan. Di sisi lain, punya anak justru malah bisa merusak hubungan suami istri. Gue maksud itu bukan punya anak malah jadi bencana ya, tapi punya anak justru malah memperlihatkan sifat asli seorang lelaki. Gampangnya, kalo sifat aslinya bertanggung-jawab, dia bakal bantu ngurus anak. Kalo sifat bertanggung-jawab-nya cuma pencitraan di depan keluarga besar dan teman-teman, ya bakal keliatan pas gak mau bantu ngurus anak. As simple as that.

Elo mau yang mana? Pasti gak mau kan punya anak malah ngerusak hubungan? Gile lu anugerah gitu malah elo puter jadi sumber masalah. JANGAN-lah.

In My Opinion, jadi Ayah itu ada yang bakat, ada yang karna banyak belajar.

Maksudnya bakat, dia terlahir dari keluarga dimana cowok juga harus telaten ngurus anak, sehingga dengan sendirinya, tanpa disuruh atau dipaksa, hal tersebut akan berlangsung alamiah. Karna pemandangan itu yang dilihat langsung dari kecil.

Maksudnya banyak belajar, dia terlahir dari keluarga konservatif dimana Ibu ngurus anak, Ayah cari duit. Tapi dirinya "berontak", dan mencoba mencari tau sekeliling bagaimana seharusnya. Meski gak pernah ada patokan "Jadi Ayah Yang Baik dan Benar".

Coba, kalo ternyata punya kedua-nya.. Istri mana yang gak bangga punya suami kayak gitu? Anak mana yang gak akan jadi-kan elo sebagai idola sepanjang masa-nya?

Istri bisa nyusuin Sob. Bonding ke anak sangat besar. Gimana cara ngimbangin-nya? YA URUS ANAK.

Gue pribadi sih selalu berusaha agar jawaban Adia kalo ditanya "Adia anak siapa? Ayah apa Ibu?". Dia bakal jawab "Anak Ayah". Jiwa kompetitif emang tinggi banget meski itu sama istri sendiri -_-

"Anak Itu Titipan Tuhan". Gue percaya kalimat itu, dan mencoba mengartikan: anak adalah titipan Tuhan, untuk kita agar menjadi manusia yang lebih baik.

MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK.


Amien!!

Minggu, 10 Maret 2013

NPA Batch 1

Alhamdulillaaahh.. Langkah kecil pertama untuk sesuatu yang besar sudah terlewati. 2 Maret kemaren, hari terakhir New Parent Academy Batch 1. Sharing dikit ah. *ge-er banget serasa pada pengen tau*

Sebenernya gue sama Dewa udah mau bikin New Parent Academy ini dari awal tahun 2012. Mulai berani nanya fee pembicara itu bulan Maret. Nanya pertama-kali, dikasih angka fee yang sangat menakjubkan, LANGSUNG BERENTI. *penakut*

Sejak itu, udah lupa deh mau bikin, karna emang takut banget, dengan pertanyaan: "Mau ngasih berapa duit buat biaya pendaftaran kalo 1 pembicara aja udah segitu?".

Waktu makin berjalan, makin banyak temen yang menikah, makin banyak temen yang hamil (atau istrinya hamil). Semakin lama kami jalankan ide di kepala ini, semakin menjauh juga target untuk memberikan manfaat untuk sekitar, dari seenggaknya dari lingkaran temen deket. Akhirnya memutuskan untuk hajar aja, dan sounding dengan membuat akun twitter @NParentAcademy pada akhir November.

Setelah melewati berbagai pertimbangan yang panjang (dan mungkin juga mendesak), akhirnya memutuskan, Batch 1 akan terselenggara pada tanggal 9, 16, 23 Februari dan 2 Maret 2013.

Setelah tanggal dan tempat sudah ditentukan, baru mencari pemateri. Keliling sana-sini buat ketemuan ngobrolin konsep. Seru pas lagi bagian ini, karna ketemu banyak orang, ketemu kenalan baru. Banyak masukan baru juga. Itu yang terpenting.

Dengan berbagai kendala yang menghampiri (jadwal bentrok, dll), akhirnya jadwal fix juga:

a. 9 Februari 2013.
- Yayasan Kita dan Buah Hati membahas Tujuan Pengasuhan.
- Ahli Gizi dari Ayah Bunda, Bebby Astrika membahas Gizi pada Ibu Hamil dan Menyusui.
- Dr. Ridwan SpOG, membahas seputar kehamilan dan persalinan dengan lengkap.
b. 16 Februari 2013.
- Qm Financial membahas Future Value dan Dana Pendidikan.
- RSIA Tambak mempratekkan cara memandikan bayi dan merawat tali pusat.
c. 23 Februari 2013.
- AIMI ASI membahas Pre-Natal ASI.
- Dr. Fransisca Handy membahas Common Problems in infant.
d. 2 Maret 2013.
- AIMI ASI membahas Post-Natal.
- Parental Building.
- Sharing Session yang di-isi oleh Adenita, Sazkia, Lita dari Mommies Daily dan BangAip dari ID Ayah ASI.

Setelah semua pembicara sudah siap untuk menghadiri, baru-lah kami berani untuk membuka pendaftaran bagi peserta Batch 1, sekitar H-1 bulan sebelum hari pertama. Dengan biaya Rp1.600.000/pasang. Waktu sharing ke para pembicara, hampir semuanya ngomong: "HAAHH.. MURAH AMAT??". Sudah mendapatkan coffee break dan lunch di jadwal kelas, plus mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk menjadi orangtua. Tapi, komentar begitu didapatkan oleh para orangtua, yang udah merasakan pentingnya pengetahuan diatas sesuai kurikulum yang kami buat. Buat calon orangtua: "HAAAHH.. MAHAL AMAT??". Ya gak bisa nyalahin juga, karna sebagian besar mereka lebih mementingkan bagaimana membeli box bayi, stroller, car seat dan lainnya. Itu salah satu kendala di Batch 1 yang gue sangat rasakan. Banyak juga yang suami-nya masih bekerja di hari Sabtu. Sedangkan kami mengharuskan pasangan yang mengikuti kelas. 2 dari berbagai kendala yang di hadapi New Parent Academy Batch 1. *rempong ye bookk jadi eike*

Sampai pada akhirnya, terdaftarlah 8 pasangan untuk mengikuti NPA Batch 1 ini, sangat jauh dari target kami yang menginginkan 20 pasang. Dari 8 pasang ini, ada 2 pasang yang gak bisa melengkapi kelas secara utuh (1 pasang gak pernah ikutan kelas, 1 pasang Heri-Meta, adik dari Dewa yang merencanakan menikah akhir Maret ini, tapi Heri-nya cuma bisa ikutan 1 kelas, karna ada tugas di Lampung). Sedangkan, 6 pasang lainnya merupakan pasangan calon orangtua (meski Wawan-Ririn merupakan orangtua dari seorang putra) yang berniat mencari ilmu tentang Bagaimana Menjadi Orangtua. Arif-Sherly, Edo-Lira, Oli-Ayu, Edo-Ima, Multi-Ririn. Salut untuk mereka yang sangat rajin dan selalu menghadiri semua kelas tiap sesi-nya.

Saat hari H, justru semua mengalir seperti air, tidak ada kendala apapun. Lokasi cukup terjangkau, peserta jarang dateng terlambat, begitu pula pemateri. Alat presentasi dan bahan pelajaran tidak ada masalah. Katering enak, dan apabila dilihat dari feedback harian yang kami berikan, hampir semua menyerukan suara positif. Dari mulai materi yang dibawakan hingga pemateri-nya. Sebenernya, ngeliat peserta pulang dengan senyum mengembang, saling tertawa, dan menyiratkan kalo mereka merasa berguna dan gak wasting time weekend seharian belajar di NPA, itu udah cukup membuat gue "orgasm". Puas banget liatnya. Sensasinya gila banget. Semacam adiksi.

So, New Parent Academy apakah udah sukses? "Sukses" ini cakupannya sangat luas, tergantung definisinya seperti apa. Kalo dari jumlah peserta, jelas masih sangat jauh dari sukses. Kalo kata DrOei, sukses atau enggaknya New Parent Academy gak bisa diliat setelah per-batch selesai, tapi bisa keliatan saat para peserta sudah menjadi orangtua. Ilmu-nya diaplikasikan atau tidak. Kalo diaplikasikan, boleh dibilang sukses. Jadi emang sangat sulit untuk mendeskripsikan "sukses".

Buat gue pribadi, gak punya batesan dalam menilai kesuksesan. Masih jauh-lah APAPUN yang gue lakukan, dari kata "sukses". Termasuk untuk New Parent Academy ini.

Terus, gimana kelanjutan New Parent Academy? Justru gue semangat bikin batch 2 dan seterusnya, kalo perlu juga bisa menjelajah keluar kota juga, jadi gak cuma pasangan calon orangtua di Jakarta saja yang merasakan manfaat NPA, kota lain juga harus kebagian. Bahkan kalo bisa ini menjadi sebuah kurikulum baru di Dinas Pendidikan, sehingga bisa gratis tanpa biaya pendaftaran. Sehingga calon orangtua dari berbagai kalangan bisa ikutan. Kalo ketinggian, mungkin juga negara lain juga kena dampak positif dari New Parent Academy. AMIEN.

Koq semangat, padahal Batch 1 peserta cuma sedikit? Seiring berjalannya waktu, gue sama Dewa mendapatkan banyak "tenaga" dari luar. Banyak yang kasih semangat, banyak yang melihat sisi positif dari adanya New Parent Academy. Para "tokoh" parenting pada siap membantu apabila kembali diperlukan, dan sangat mendukung untuk terus melanjutkan perjuangan ini. Bahkan di hari terakhir, meski terlihat biasa aja, tapi gue seneng banget 4 admin ID AyahASI dateng untuk meramaikan sesi sharing session. "Tenaga" seperti itu yang gue-Dewa butuhkan. Karna emang capek banget ngerjain ini semua cuma berdua (meski di hari H ada Meli-Andi dan Vani yang membantu kadang sama Bregas pacarnya).

Setelah melalui 3 bulan yang cukup melelahkan berdua sama Dewa, mau hibernasi sebentar, kosongkan pikiran dari New Parent Academy, pulihkan hubungan berdua (karna sering banget ribut pada masa persiapan), sayang-sayang-an dulu (bikin adek yang banyak dulu buat Adia. #Lah) baru mulai lanjut lagi ngerjain Batch 2. Mulai dari evaluasi, sampai reverse pola di Batch 1. Cari tempat, cari pembicara, cari peserta. Cant wait mengulang sensasi itu lagi.

Selama masih ada yang belom tau apa itu "New Parent Academy", selama itu pula semangat plus ke-gemes-an gue akan hal ini gak akan pernah habis.



Selasa, 19 Februari 2013

Keuntungan Punya Kartu Kredit

Baru aja ngetweet beginian di twitter, jadi pengen ngomong panjang, ribet cuma 140 karakter doang. *cowok bawel deh lu*

Biar ini tulisan bagus, jelasin satu-satu dikit deh ya, kali aja kan ada yang mau nerbitin buku gue nanti. *NAJIS*

Sistem kartu kredit menurut Mbah Wikipedia, "suatu jenis penyelesaian transaksi ritel (retail) dan sistem kredit, yang namanya berasal dari kartu plastik yang diterbitkan kepada pengguna sistem tersebut. Sebuah kartu kredit berbeda dengan kartu debit di mana penerbit kartu kredit meminjamkan konsumen uang dan bukan mengambil uang dari rekening. Kebanyakan kartu kredit memiliki bentuk dan ukuran yang sama, seperti yang dispesifikasikan oleh standar ISO 7810". HALAH RIBET. Gampangnya, kartu kredit itu: Adalah kartu yang kita dapatkan dari bank, yang fungsinya pengganti uang cash, sebagai alat pembayaran. Tinggal gesek dah pokoknya, barang bisa dibawa pulang.

Banyak orang yang skeptis sama yang namanya Kartu Kredit. Boleh aja, skeptis kan sebenernya manusiawi, tumbuh dari rasa "curiga" akan sesuatu, wajarlah. Tapi ada baiknya kalo skeptis, harus dilandasi dengan alasan yang kuat, jangan cuma "katanya" aja lu. Aaaahh.. Payah dah panci somay!!

Coba melihat dari kacamata awam yak, kenapa fasilitas yang diberikan oleh kartu kredit ini sebenernya sangat berguna. Oh iya, gue bukan sales kartu kredit loh ya. Cuma dibayar temen buat nulis begini. *SAMA AJA DONG BERARTI* Becanda ye.

1. Menunda Pembayaran.
Di twitter, barusan bahas hashtag #CC ,menerangkan kenapa gue menunda beli sepatu futsal hingga lewat tanggal 20 Februari. Dijelaskan dulu dikit, kalo di bank itu ada 2 tanggal yg penting, yaitu:
- Tanggal Cetak.
Definisinya adalah tanggal dimana semua transaksi akan dicetak dan ditagihkan. Misal, tanggal cetak tanggal 20, maka itu akan menagihkan semua transaksi dari tanggal 21 bulan sebelumnya sampai tanggal 20 bulan ini.
- Tanggal Jatuh Tempo.
Definisinya adalah tanggal dimana semua transaksi yang tercetak, harus dibayar. Biasanya 2-3 minggu setelah Tanggal Cetak. Misal di kasus gue, tanggal cetak itu tanggal 20, sehingga harus dibayar semua transaksi pada tanggal jatuh tempo, yaitu tanggal 8 bulan berikutnya.
Nah, jadi kenapa gue menunda beli sepatu futsal setelah tanggal 20 Februari? Karna, kalo gue beli-nya tanggal segitu, maka bayarnya tanggal 8 April. Sepatu udah dipake selama 1,5 bulan, tapi baru ngeluarin duit.
Ya sebenernya sih sama aja, ujung-ujungnya keluarin dengan jumlah yang sama. Tapi somehow, efek psikologis "gue punya barang sekarang, bayar nanti" itu cukup menyenangkan. Gue memanfaatkan fasilitas ini dengan cara, punya 3 kartu kredit yang tanggal cetaknya berselang 10 hari. Bank A tgl 10, bank B tgl 20, bank C tgl 30. HA-HA-HA *merasa menang*

2. Cicilan 0%.
Ada yang sering liat, di toko elektronik ada tulisan "Cicilan 0% selama 12 bulan menggunakan Credit Card bank A, Bank B, Bank C"? Nah ini salah satu keuntungannya. Kasus gue kemaren, baru beli HP, meski gak begitu mahal, tapi sayang aja kalo langsung ngeluarin duit cash Rp1.200.000. Mending pake fasilitas yang disediakan, jadi bayarnya Rp100.000 per bulan. Atau waktu itu beli kasur 200x200, demi kenyamanan tidur gue-Dewa-Adia. Karna kasur cukup mahal, kalo misalnya gue nabung, baru setaun itu bisa kebeli. Kenapa gak dibalik aja. Barang dapet dulu, baru gue "nabung" (nyicil) selama 12 bulan kedepan buat ngelunasin. Toh bunga 0% kan, harga barang sama. Malah kalo masukin inflasi, kita diuntungkan. Dapet kasur hari ini, bisa tidur nyenyak hari ini, tapi baru lunas dibayar taun depan. Bahkan, saking gue mau gila2an pake fasilitas ini, pernah beli HP harga cuma 700an ribu, cicil 12x!! Jadi sebulan cuma 60an ribu. HA-HA-HA *merasa menang lagi*

3. Promo.
Pernah juga kan, kalo lagi ke restoran, didepan pintunya ada tulisan "Menggunakan kartu kredit Bank A diskon 30%". Nah ini salah satu keuntungannya juga. Pernah waktu itu makan di salah satu restoran di Cilandak Town Square, "Diskon buy 1 get 1 menggunakan Kartu Kredit Bank B". Dan itu sangat berpengaruh besar pada saat bayar. Yang harusnya makan bisa ratusan ribu, ini bayar pake kartu kredit yg sedang promo, cuma bayar puluhan ribu. Gue ngakalinnya adalah, kalo Dewa udah punya kartu kredit dari Bank A, gue gak akan ngajuin aplikasi untuk bank tersebut. Begitupula dia sebaliknya. Jadi kalo lagi mau makan di restoran, tanya dulu "Mas, ada promosi kartu kredit apa?". Kalo gak ada, gak jadi makan disitu. *Pasangan gak mau rugi*

4. Kepepet.
Ada momen, dimana pada saat yang tidak direncanakan, tiba-tiba nemu barang yang kita suka (bagusnya sih bukan "suka" ya, tapi "butuhkan"), tapi gak pegang duit cash, maupun ATM rada jauh, males jalan? Emang lebih bagus pake kartu debit, tapi kalo misalnya rekening gak cukup duitnya, sedangkan masih nanggung dikit lagi gajian. Disini kartu kredit bisa memainkan perannya. Yang paling deket, sekitar beberapa bulan lalu, pas banget ada launching Jersey Timnas Indonesia di Nike Kota Kasablanca (kalo gak salah). Kesana juga sebenernya gak direncanakan, cuma mau ajak Adia ada pameran tentang anak-anak gitu rame mamah muda makanya gue mau nganter. Pas lagi nemenin Dewa keliling Mall (yang merupakan hobi anehnya), mampir ke Nike, wah jersey timnas udah keluar. Di dompet cuma ada 50 rebu selembar. Sedangkan ini baju baru keluar hari itu juga, belom banyak yang punya. Gue udah ngincer banget dari kapan tau punya Jersey Indonesia (maklum dulu mah gak ada duit bakal beli jersey-jersey-an. Sekarang masih gak ada sih, maksa aja pinjem KTA ke bank demi jersey. <<<-- Orang gila). Yowes, karna males ke ATM, gesek aja deh. Pulang bawa jersey TANPA ngeluarin uang secara harfiah.

5. Belanja Online.
Beberapa item sekarang cuma bisa dibeli melalui situs online, dimana situs online mayoritas menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran. Gimana mau cash, wong online koq, emang bisa tangan lu nembus ke screen komputer waktu mau bayar, terus masukin duit gitu ke dalamnya (#taelah ini)?? Kasus yang pernah gue alamin, dapet hadiah ulang taun nonton The Stone Roses Reunion di Sing. Pas beli tiket konser, gimana caranya? Wong acaranya di luar negeri kan. Ya mau gak mau beli pake kartu kredit. Meski bisa beli on the spot, tapi ada yang jamin gak akan habis itu tiket? Udah mahal-mahal ngeluarin duit buat transport, penginapan, sampe sono tiket konser habis. Nangis dah lu Panjul.

6. Catatan Positif di Bank.
Ini sebenernya bakal elo dapetin kalo udah cukup lama menggunakan kartu kredit, 2-3 tahun. Dengan pemakaian yang bagus (gak pernah bayar minimum payment atau nunggak), secara otomatis akan meningkatkan "harga" kita dimata bank. Berbagai fasilitas akan ditawarkan kepada kita, misal kenaikan limit secara cuma-cuma, atau mungkin promo berhadiah yang didapatkan secara tiba-tiba. Kasus gue pribadi, meski pemakaian gak banyak tiap bulannya, tapi pasti tiap 4-6 bulan sekali ditawarkan kenaikan limit. Emang penting ya kenaikan limit? Menurut gue penting, bukan, bukan biar bisa belanja lebih banyak, salah fokus ini. Pentingnya, kalo mau ngajuin apapun ke bank, lebih mudah. Misal, mau ngajuin Kredit Pemilikan Rumah, Kredit Kepemilikan Kendaraan Bermotor, atau pinjaman lainnya. Analis bank pasti akan melihat track recordnya di bank lain (yang gue gak tau gimana mereka bisa saling tuker2an data begitu). "Wah, Bank A aja berani ngasih limit 50 juta", pasti jadi pertimbangan besar buat mereka. Begitu pula sebaliknya, kalo punya kartu kredit buat gaya-gaya-an tapi ujung-ujungn-nya malah nyusahin keuangan sendiri, ya bakal dapet "harga" jelek di mata bank.

Diatas gue paparin 6 positifnya punya kartu kredit. Cukup menguntungkan kan, kalo elo memanfaatkan fasilitas tersebut? Tapi kenapa koq banyak banget kasus yang punya kartu kredit tapi bermasalah secara keuangan? Koq bisa malah jadi ngutang, sampe akhirnya diteror sama Debt Collector? Dibawah ini bakal gue kasih tau 2 yang HARAM kalo punya kartu kredit:

1. Bayar Minimum Payment atau Tidak Full Payment.
Ini sebenernya sangat menggoda banget, biasanya minimum payment ini adalah 10% dari total transaksi pada saat tanggal jatuh tempo. Ini "jebakan" dari pihak bank. Sama sekali bukan fasilitas yang ditawarkan kartu kredit. Misal, elo belanja ini-itu, sampe akhirnya pada saat tanggal cetak, ada tagihan sebesar Rp2.000.000. Pada tanggal jatuh tempo, ada opsi "minimum payment 10%", yang artinya cukup membayar Rp200.000 saja. Enak? Palamu enak!! Logika aja deh, kalo kita harusnya bayar Rp2.000.000, terus cuma dibayar Rp200.000, yang Rp1.800.000nya gimaneee??!! Di kata bank gak harus biayain karyawan, gak harus biayain orang yg nawarin elo kartu kredit dulu? Nah, Rp1.800.000 ini UDAH PASTI bakal kena bunga yang cukup tinggi, yang akan ditagihkan bulan depannya. Bulan depan, elo udah pasti bayar Rp1.800.000 PLUS bunga (yang gue sendiri gak mau tau tingginya segimana, karna itu horor banget) PLUS transaksi bulan tersebut. Misal, bulan tersebut menggunakan Rp2.000.000 lagi, berarti tagihan akan tercetak Rp2.000.000 PLUS Rp1.800.000 PLUS bunga. Nah, bisa lagi minimum payment 10%. Elo pake lagi "jebakan" itu. Yaudah, ampe Lebaran Monyet juga gak akan bisa beres. Bunga-ber-bunga. Menyeramkan. Kasusnya sama kalo elo gak bayar full payment, misal tagihan Rp2.000.000, tapi cuma dibayar Rp1.500.000 misalnya. Ya yang Rp500.000 bakal kena bunga, begitu seterusnya.

2. Bayar Lewat Tanggal Jatuh Tempo.
Ini makanya kenapa tanggal jatuh tempo itu harus diingat para pengguna kartu kredit (selain tentu tanggal pacar mens ya), setau gue sih, setelah lewat tanggal jatuh tempo, maka bunga akan dihitung harian dan mulai resek pihak bank (gak begitu tau, karna belom pernah ngalamin). Mulai dari ditelponin mulu ke HP, sampe disamperin ke kantor atau rumah (ada temen yang pernah begini). Lebih baik punya kartu kredit maksimal 2 yang aktif, biar gak lupa tanggal jatuh temponya. Ngeri soalnya kalo sampe lewat, "makanan" buat para bank.

Sama ada satu lagi nih momok buat para pemegang kartu kredit: "Iuran Tahunan". Gak perlu takut, selama punya kartu kredit, gak pernah sekalipun gue bayar iuran tahunan. Koq bisa? Tahun pertama, biasanya gue apply kartu yang gratis iuran. Tahun kedua, karna pembayaran bagus (selalu paling telat pas tanggal jatuh tempo), tinggal telpon call center dan bilang "Mbak, tolong hapusin iuran tahunan ya. Semua kartu kredit saya gak ada loh yg bayar iuran tahunan. Kalo tetep masih dikenakan, yowes sekalian saya bayar aja sekarang terus tutup kartunya". Pasti berhasil!! Tapi dengan catatan, pembayaran bagus ya. Jangan nanti udah bayar minimum payment, sering telat pula, eh malah nuntut dihapusin Iuran Tahunan. Itu sama aja kayak elo gak pernah nraktir pacar, gak pernah antar-jemput, tapi ujug-ujug ngajakin ML. MANA MAU DOI WOOYY!!

Awalnya sih gue juga skeptis koq sama kartu kredit. Dewa yang dulunya punya kartu kredit duluan. Sempet bilang ke istri tercinta: "Ngapain sih kamu punya kartu kredit? Bisa bikin boros kan", karna emang gue gak ngerti gimana mekanisme kartu ini bekerja, karna selalu berpikir kartu kredit itu "setan", yang bakal menggerogoti dompet. Akhirnya nyoba apply, waktu itu pertamakalinya disalah satu mall. Eh, approve di limit yang kecil (yaiyalah, namanya baru punya pertamakali, gak punya track-record bagus). Makin kesini, koq makin banyak aja keuntungan yg bisa gue rasakan waktu menggunakan kartu kredit. Salah 6-nya yang gue jabarkan diatas sana.

Intinya pake kartu kredit cuma satu: "BAYAR SESUAI DENGAN WAKTUNYA DAN PENGGUNAANNYA"

Karna punya kartu kredit itu bukan nambah uang cash di rekening, gak nambah loh uang kita kalo punya ini barang. Dia cuma sebagai pengganti uang cash. Titik.

Silahkan kalo mau skeptis sama kartu kredit, seperti yang gue bilang, skeptis boleh aja asal punya landasan kuat, bukan "katanya". Apa jangan-jangan jadi skeptis gara-gara udah sering ngajuin aplikasi kartu kredit tapi ditolak terus?? Jangan gitu ya kalo nyinyir :)) *LAH INI ELO SENDIRI NYINYIR, NGEHE!!*

So, selama tau gimana cara memanfaatkan semua fasilitas yang diberikan, gak perlu takut punya kartu kredit.


Poto 5 taun yg lalu. Sepatu yg menginspirasi nulis blog ini.

Senin, 11 Februari 2013

Quality Time

Judulnya udah kayak orang bener aja yak. Quality time yang gue maksud diatas adalah Waktu yang Berkualitas. *INI MAH CUMA DI-TRANSLATE DOANG, PACUL!!*

Sorry, sorry.

Waktu berkualitas yang gue maksud adalah, dengan siapa, ngapain aja, dan berapa lama kita menghabiskan waktu 24 jam/hari didalam hidup ini. "Berkualitas"? Karna itu bisa men-charge energi untuk menjalani rutinitas sehari-hari. Capek harus nyari duit? Capek ngurusin rumah tangga sendiri? You need some "charger", so the batere will running well everyday. *bahasa Inggris ngaco*

Di tulisan ini akan bahas 3 jenis Quality Time ya menurut gue pribadi, dengan observasi berpuluh-puluh tahun (lebay). Akan mengesampingkan kegiatan yang dilakukan oleh Ayah/Ibu/Adik/Kakak ya, itu udah bukan Quality Time, tapi udah level teratas, dan udah bukan bagi-bagi waktu lagi, tapi WAJIB.

1. Me Time.
"Me Time" adalah waktu berkualitas untuk menyalurkan hobi dan kesukaan. Contohnya banyak. Bisa dengan maen game, baca buku, ngeblog, olahraga, dll.

2. Our Time.
"Our Time" adalah waktu berkualitas untuk meningkatkan ikatan antar pasangan. Contohnya juga banyak. Nonton berdua, liburan, dll.

3. Family Time.
"Family Time" adalah waktu berkualitas bersama keluarga. Contohnya. Apabila sudah punya anak, ke playground atau ke tempat wisata, dll

Seiring berjalannya waktu, ternyata komposisi Quality Time ini komposisi-nya berubah loh, coba dikit gue bahas ya berdasarkan pengalaman, dengan 3 rentang waktu yang berbeda:

a. Gak Punya Pasangan.



Grafik diatas nunjukin, quality time untuk orang yang Gak Punya Pasangan, adalah full 100% Me Time. Bebas kan? Buat cowok, mau olahraga sendiri/ramean, maen game, kalopun hobi "mijit" juga monggo. Wong gak ada ikatan kan sama orang lain. Bebaskeun. Buat cewek, bisa nyalon, shopping seharian sendiri/ramean, baca buku, jalan sama HTS-an. Seterah. Apapun yang dianggap bisa memuaskan hasrat dan keinginan pribadi.

b. Punya Pasangan atau Menikah.




Setelah punya pasangan, ya bedalah, gak bisa 100% untuk Me Time. Quality Time dibagi lagi, sekarang mulai bagi-bagi deh biar adil 50%-50% sama Our Time. Itu konsekuensi loh. Jalanin hobi tanpa pasangan ya tetep aja jalan, cuma udah gak sebebas kalo jomblo. Seenaknya aje lu, udah dianter jemput naek kendaraan pribadi, tapi maunya bebas aja. Seenaknya aje lu, udah bisa ciuman gratis, tapi maunya bebas aja. Pppfftt..

3. Menikah Punya Anak.


Nah loooo.. HA-HA-HA *ketawa sedih* Nah, kalo udah punya anak, semua Me Time dan Our Time ini akan kembali berkurang loh seharusnya. Makanya gue bikin komposisi-nya adalah 70%-15%-15%. Gak ada masalah jalanin hobi, atau pergi berduaan sama istri/suami, tapi tetep sebagian besar waktu dihabiskan bersama anak (plus pasangan). Kalo kemaren di kelas New Parent Academy, kata Ibu Rahmi Dahnan dari Yayasan Kita dan Buah Hati: "Jangan sampe bekerja dari Senin-Jumat, Sabtu menjalankan hobi, Minggu maunya tidur doang. Kapan ngurus anaknya??!!"

Kalo dilihat diatas, malesin yak punya anak? Tergantung.

Dari dulu, gue selalu bilang, sebelum menikah, puas-puasin dulu waktu masih muda ngelakuin hal-hal yang gak bikin penasaran, biar saat mengucapkan Ijab Kabul, udah males untuk ngelakuin itu semua. Ada beberapa temen yg baru selingkuh setelah menikah. Selingkuh emang sensasinya luar biasa, gue akuin, dan nagih pula. Tapi mbok ya sebelum menikah, lakuin itu semua. Yang cewek hobi flirting ke cowok? Ya puas-puasin sebelum punya suami. Wong bukan "milik" siapa-siapa kan kalo belum menikah. Gunakan Me Time disaat gak punya pasangan dengan sebaik-baiknya. Sama aja kalo udah punya pasangan, puas-puasin dulu kemana-kemana berdua, liburan kek, bahkan hanya sekedar nonton atau dinner, gak ada masalah, selama itu berkualitas. Kesampingkan kuantitas ya, fokus ke kualitas. Ibaratnya minum jakban, jangan cuma biar lama aja, tapi diantara waktu tersebut, ada multiple orgasm. #taelah

Karna, disaat elo udah punya anak, semua itu akan berubah. Gak bisa lu semena-mena maen kesana-kemari tanpa mikirin anak. Gak bisa lu maen game dirumah tanpa anak ikutan. Gak bisa lu nonton pelm kesukaan membawa anak, padahal konten-nya adalah 17+. Gak bisa lu liburan bedua-an dengan bebas tanpa mikirin "Udah bawa baju anak? Pampers-nya cukup?", dll. Karna 70% Quality Time itu adalah bersama suami/istri dan anak. Ribet yak? Bukan ribet. Tapi konsekuensi.

Gue akan coba menjabarkan Quality Time didalam hidup sendiri ya:

1. Me Time.
Buat gue adalah saat maen futsal dan sepakbola (rutin mingguan), nonton bioskop (pelm yg Dewa gak suka) atau pertandingan futsal sendirian, ngumpul sama temen dan ngerental PS3 seharian  maen FIFA (rutin 2 bulan sekali) dan nonton bola (Liverpool-Indonesia-Inggris) tanpa gangguan dirumah (Dewa full pegang Adia) atau nonton bareng temen diluar rumah.

2. Our Time.
Buat gue sama Dewa adalah nonton midnite plus dinner tengah malem (rutin 2-3 minggu sekali), dan tentunya setiap hari saat Adia udah tidur. Cukup peluk-pelukan sembari cerita apa yang dialamin pada hari tersebut. Ya meski seringnya "berlanjut" sih.

3. Family Time.
Buat gue-Dewa-Adia adalah tiap hari!! Auah. Tapi emang bener. Tiap malem, selalu dihabiskan main sama Adia. Ngajarin dia angka, gambar dikertas kosong, bermain imajinasi (dia masak terus hasilnya dikasih ke kami, atau dia pura-pura jualan roti), atau hanya sekedar bacain cerita. Apapun yg bisa menstimulasi perkembangan-nya pasti akan kami lakukan. Weekend pun begitu, pasti ada 1 hari full dimana gue-Dewa akan ngajak Adia pergi kemanapun, dari mulai ke tempat wisata, ke tempat hiburan, atapun hanya sekedar ke kondangan.

Dengan rutinitas harian yang cukup menguras energi, gue berkesimpulan semua jenis Quality Time ini harus dimiliki oleh semua orang agar bisa mengurangi peluang untuk stres.

Kalo gak punya pasangan, bosen gak ada yang perhatiin, bosen sendiri? Jangaaann.. Enak loh kalo masih sendiri, ngelakuin apapun bebas gak ada larangan. Lagian masih ada temen juga kan yang bisa nemenin? Masuk itu dengan konsep Me Time. Puas-puasin-lah, enak koq. Ada temen elo single tapi sok galau? Bohong itu. Padahal mah cuma mau dapet perhatian doang dari lawan jenis. Wong dibelakang itu pasti lagi seneng-seneng.

Kalo udah ada pasangan, bosen dilarang-larang ini itu sama doi? Jangaaann.. Harus bisa bagi ke Me Time, emang dikata kagak bosen kemana-mana berdua mulu, ngapain-ngapain berdua mulu, bahkan setelah menjadi suami-istri? Bosenlah. Makanya masing-masing harus punya Me Time, agar efek bosennya gak semakin besar. Ada sebagian kegiatan cowok yang gak pernah bisa dimengerti oleh cewek, begitupula sebaliknya. Saling menghargai aja. Wong gue kagak ngarti Dewa bisa kuat seharian jalan di Tanah-Abang atau Mangga Dua. Demikian sebaliknya, dia gak pernah ngerti kenapa tenaga ada aja buat maen futsal 2 jam. *meski dia gak ngerti juga (cenderung menyerah) sih kenapa gue bisa lama kalo lagi........ Eh, gak jadi deh*

Kalo udah punya anak, bosen ngurusin tiap hari? Jangaaann.. Emang sebagian besar waktu suami-istri akan terbagi untuk ngurusin anak, tapi tetep harus ada waktu "pacaran" dong, biar hubungan bisa terjaga tetap harmonis. Caranya gimana? Ya itu tiap pasangan bisa ngakalin masing-masing, gue-Dewa udah ngasih contoh. Kalo emang anak belom bisa ditinggal, cukup tiap malem jangan pada langsung tidur, tapi nonton tipi bareng juga oke koq. Kadang kan masalahnya dalam rumah tangga itu simpel, pada ngerasa saling gak diperhatiin. Si Ayah ngerasa Ibu ngurusin anak mulu, jadi kecapean. Atau si Ibu yg ngerasa mikirin kerjaan mulu, jadi kecapean juga. Malem dihabiskan main sama anak, anak tidur, eh malah lanjut dengan ZZZZZZzzzzz... *molor*
Me time juga masih perlu dilakukan, waktu berkualitas TANPA ada mereka. Tiap hari ketemunya istri/suami sama anak mulu emang menyenangkan, tapi kadang hobi juga gak bisa ditinggalin gitu aja. Banyak kasus, istri gak punya Me Time, jadinya capek ngurusin anak-suami terus. Minta aja. Suami juga harus pengertian, gak papa sekali-sekali ngurus anak seharian, biarin istri jalanin hobi, untuk belanja, atau sekedar ke salon. Penting.

Banyak kasus orang stres kagak di sekitar elo? Gue yakin karna mereka gak punya Quality Time ini, dan terlalu sibuk sama rutinitas sehari-hari. Masing-masing punya cara sendiri dalam menentukannya,
You Name It!!

Have a Great Quality Time In Your Life!!

"What does immortality mean to me? That we all want more time; and we want it to be quality time."
- Joan D. Vinge

Senin, 28 Januari 2013

Berantem Dalam Rumah Tangga

Bagi yang kenal gue sama Dewa, mungkin ngeliat rumah-tangga kami kayaknya ceria, seneng, ketawa, pokoknya happy married couple deh. Kayaknya lancar aja, tanpa ada masalah didalam rumah tangga. Apa mungkin? YA GAK MUNGKIN-LAH *pake imbuhan "lah" biar rada nyolot*

Dalam suatu rumah-tangga, yang tiap bangun tidur, melek, ada istri. Pas mau merem, ngintip dikit, eh suami. Dan selalu berulang entah sampe kapan. Tidak mungkin konflik bisa dihindarin. Potong kuping gue (anjir, anak Bandung banget nih) kalo ada pasangan di dunia ini, yang terlihat seharmonis Beckham-Victoria, sekeren Brad Pitt-Angelina Jolie, atau se-unyu Pattinson-Kristen, gak pernah berantem selama mereka hidup bareng. Pasti pernah. Lah wong elo aja bisa koq berantem sama sahabat sendiri kan, padahal elo tinggal dimana, dia tinggal dimana. Pasti akan lebih mudah keserempet konflik kalo tinggal seatap. Jangankan sahabat, sama Adik/Kakak aja kalo tinggal serumah masih suka berantem, masalah sepele. Misal, tivi cuma satu. Kita mau nonton apa, Kakak kita mau nonton apa. Berantem pasti. Padahal mungkin pas elo melek bangun tidur, gak ada siapa-siapa. Elo mau merem, gak ada siapa-siapa, karna Kakak elo di kamar yang beda. *ya gak sendiri juga kali ya, kan tiap kamar ada setannya* *hiiiiiiihihihihi* (suara kuntilanak)

Naahh.. Bayangin deh, udah tinggal seatap, mesti tidur sekamar juga. Masih bisa ngindarin konflik?

Gue sama Dewa cenderung pasangan yang selow, jadi emang ada sedikit kebebasan dalam kami menjalankan hidup (meski gak bebas 100% sih) masing-masing diluar keluarga. Jadi kalo ada masalah sepele-pun gak terlalu ambil pusing. Biasanya langsung diberesin di hari yang sama, jadi gak berlarut-larut. Lagian susah juga nyari waktu yang tepat untuk berantem, karna udah punya Adia. Kami sangat menjaga banget untuk gak kelepasan berantem di depan doi (berantem disini maksudnya adu argumen ya, bukan kayak Ez* yang mukulin Ard*na secara fisik *update infotainment*). Karna, jujur aja, gue sama Dewa dibesarkan oleh orangtua yang suka berantem didepan anaknya. Dan itu sangat traumatik, jadi gak mau Adia mengalami hal yang sama.

Kalo misalnya ditanya, sebenernya apa sih yang paling sering bikin kami berantem, padahal diluar keliatannya baik-baik aja dan mesra? Ada loh penyebab utamanya. Kasih tau gak yaaaaa.. *NAJIS*

Dewa itu sangat gampang marah, kalo dia lagi ngerasa gue gak perhatian. Contoh, dia pengen pergi pacaran berdua, tapi gue gak antusias. Atau gue udah jarang ngasih kejutan-kejutan kecil buat dia. Atau misalnya, abis Adia bobo, udah jarang peluk-pelukan, sayang-sayang-an.

Gue itu akan sangat gampang marah, kalo ngerasa Dewa lagi "males-malesan". Contoh, gue udah bikin "skenario" yang seru, tapi dia gak antusias. Atau dia udah jarang ngasih "surprise" kecil buat gue. Atau misalnya, abis Adia bobo dia malah ikutan bobo, padahal gue udah nungguin. (sebenernya reputation risk nih nulis begini.. Bodo ah. HA-HA-HA)

Coba deh, perhatikan penyebab kami itu gampang marah. Kalo yang baca ini cowok, pasti sepakat sama gue "Itu kan bukan hal yg penting, ngapain sih cewek anggep itu penting?". Tapi coba kalo elo cewek, pasti pikirannya sama kayak Dewa "Itu kan bukan hal yg penting, ngapain sih cowok anggep itu penting?". Iya gak? Udah ngaku aja deeehh.. NGAKU!! *koq nyari temen tapi nyolot gini?*

Jadi sebenernya, kalo gue sama Dewa baca artikel, atau tau kisah perselingkuhan para suami/istri diluar sana, ya sebagian besar karna kasus seperti ini. Sang istri merasa suami udah gak memberikan perhatian lebih kepada dirinya. Atau sang suami merasa istrinya "males-malesan" dalam menjalankan "ritual" tersebut.

"Lah, kalo denger dari cerita elo ini, berarti ada kemungkinan dong elo atau Dewa selingkuh??!!"

YA ADA-LAH. Selingkuh itu manuasiawi koq. Manusia itu egois, selalu mau mendapatkan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Masuk sama tujuan selingkuh, mendapatkan apa yang tidak bisa diberikan oleh pasangan. Klop.

Permasalahannya, gue ama Dewa tau risiko kalo salah satu dari kami selingkuh, itu adalah "dosa" yang gak akan pernah termaafkan, dan itu emang udah komitmen kami dari awal, bahkan saat sebelum menikah. Kalo ngalamin masalah lain, pasti bisa dicari jalan keluar, tapi kalo udah sampe ketahap selingkuh, ya goodbye dah-dah aja. Kriteria selingkuh untuk tiap pasangan beda-beda loh. *panjang kalo dijabarin* *waktu gue gak banyak, maaf ya* <<-- Minta ditimpuk

Terus gimana caranya dong biar gak terus-terusan berantem untuk berbagai masalah tersebut?

Ya ngobrol. Maksudnya? Istri kasih tau mau-nya apa, begitu pula suami. Misal istri ngerasa kurang dapet perhatian, obrolin yang enak, maunya gimana, sukur-sukur suami bisa menuhin keinginannya. Kalopun gak full 100% sesuai kepengenan, ya kasih batas toleransi. Sama aja buat suami, yang "tenaga" dan "kemauan"nya berlebih, harus ngomong, pengennya seperti apa dalam melakukan "ritual". Kasih batas toleransi juga (misal, istri gak bisa "ngimbangin" sehari 2 kali, ya kasih toleransi misalnya jadi sehari 1 kali, dst. #busyet). Seenggaknya ini cara kami menyelesaikan masalah yg kadang mendera rumah-tangga. NGOBROL.

Gue yakin, diluar sana, BANYAK yg permasalahan rumah tangga-nya seperti ini, karna emang terlalu mainstream sih kasusnya. Dan BANYAK juga yang gak mau ngobrol dan ngebahas, karna udah punya pemikiran dan ego masing-masing. Jadinya BANYAK yg melakukan perselingkuhan. Ya gitu deh ujung-ujungnya. Mau cerai? Ribet. Belom kalo udah punya anak kan. *amit-amit* *ketok tangan ke kayu* *anjir, ada rayapnya!!* <<-- Garing.

Kasih tips dikit nih, kalo pada bingung kapan cari waktu yang enak buat ngobrol. Karna dengan waktu dan mood yang pas, dijamin lancar mengemukakan pendapat. Meski gue ngerasa gak lebih jago dari elo semua, tapi mungkin berguna, karna dipake dalam hubungan kami: Kalo suami mau mengutarakan keinginannya, ngomong tepat setelah istri merasa dimanjakan (ini beda-beda tiap wanita, cari sendiri yak, emang gue dukun. #taelah). Kalo istri? Jelas sesaat setelah melakukan "ritual" suami-istri, apalagi kalo suami dapet "pengalaman" istimewa dalam melakukannya. Dijamin apa yang akan kita utarakan, pasangan bakal meng-iya-kan tanpa perlawanan. DIJAMIN. *belajar dari Dewa istri siaul* *tau aja kapan gue bisa dihipnotis*

Kenapa gue bahas topik ini sekarang? Karna waktunya pas, kemaren abis berantem sama Dewa. Mungkin udah banyak yang tau kalo gue sama Dewa lagi barengan ngerjain New Parent Academy, dimana pressure yang kami dapatkan begitu besar, jadi menaikkan tensi di tubuh ini. Nah, elo bayangin deh dari cerita diatas..

Udah tinggal 1 atap, 1 kasur, ditambah pula ngerjain 1 project bareng!!

Masih mau bilang gak akan ada Berantem Dalam Rumah Tangga kami??

"A problem is a chance for you to do your best". – Duke Ellington

Ketawa Aja Dulu. Hidup Itu Seru Koq. Nikmatin aja :)

Rabu, 09 Januari 2013

Toilet Training

Buat sebagian orangtua, fase ini adalah fase yang cukup "menyeramkan", iya gak? Itu menurut gue sih. Coba bayangin, kalo orangtua yang biasa nyebokin pipis/pup anaknya aja bilang "menyeramkan", gimana yang sama sekali gak pernah nyebokin? HAYO LO!! CILUUUKK BAA!! *nakut-nakutin*

Awalnya, jujur cerita disini, gue parno Adia udah memasuki usia 2 tahun. Okelah dia gak lagi nyusu sehingga itu "pabrik" udah seutuhnya milik gue lagi, tapi pasti setelah itu ada fase yang namanya "toilet training". Fase dimana anak udah diajarkan untuk buang kotoran di kamar mandi, bukan di pampers lagi. Kenapa parno? Ya karna Adia ini seharian sama gue, somehow, kepikiran banget nanti dia pipis sembarangan, sehingga basahin barang model kasur, sofa, dll. Pipis aja ngeri, gimane pup. Apalagi kalo mencret. Ngeri. Karna meski ada Arini, tetep aja kan gak enak kalo ada kotoran Adia tergeletak gitu, ada gue, terus malah minta tolong Arini. Pasti gue sendiri yang bersihin. *pura-pura gak liat aja deh*

Kadang kalo Dewa bilang "Bun, Adia mulai toilet training ya?". Pasti gue jawabnya, "Oke, malem aja ya sama weekend, kan ada kamu tuh". Ya itu tadi, karna parno. Jadi emang tampak setengah-setengah niat toilet training-in Adia, ya tergantung mood aja kapan dia pake pampers, kapan cuma celana aja.

Ternyata kami berdua SALAH sebagai orangtua.

Adia berat badan gak naik, Dewa udah curiga ada yang salah sama kondisi ini. Akhirnya kami test lab, semua diperiksa, darah-urine-feses. Hasilnya? Sesuai dugaan Dewa, Adia kena Infeksi Saluran Kencing (ISK). Ada beberapa jenis ISK kata dokter, ada yang kalo pipis, sakit. Tapi yang ada di Adia ini bukan yang begitu, Adia gak pernah ngeluh sakit kalo pipis. Tapi yang dibadannya itu "memakan" semua protein, karbohidrat (eh, apaan aja sih, lupa gue, HAHAHA), intinya, mau makan sebanyak apa juga Adia akan sulit menambah berat badannya. "Emang ISK ini gara-gara kenapa ya Dok?", gue tanya. "ISK untuk anak seumur ini, kebanyakan penyebabnya adalah penggunaan Pampers yang salah. Bisa aja, udah pipis tapi gak langsung diganti dan dicebok vagina-nya, jadinya berkembang disitu penyakitnya". JEGER!! Langsung merasa bersalah sebagai orangtua. *maaf ya Nak* *kamu mau naik odong-odong berapa jam?* *mainan murah* *Ayah Padang*

Pulang dari rumah-sakit, setelah mendapatkan obat untuk membantu penyembuhan, kami bertekad untuk serius nge-toilet training-in Adia, apapun resikonya. Ini beberapa fasenya:

1. Sosialisasi.
Sebenernya fase sosialisasi ini udah lama gue-Dewa jalankan buat Adia. Sering kami bilang, "Adia, kalo mau pipis atau eek, di WC ya. Adia kan udah gede, jadinya sama kayak Ayah-Ibu. Gak usah pake pampers lagi ya". Itu yang selalu kami tanamkan. Untungnya, terbantu oleh Rakata (anak Kak Amel) yang 1 tahun lebih tua dari Adia, dan udah bisa buang kotoran di WC. Jadi kalo mereka lagi maen bareng, Adia suka liat kalo Rakata itu ke WC. Jadi kalo kami lagi terus sosialisasi, Adia bilang "Iya, sama kayak Raka".

2. Beli Ganjalan WC.
Ganjalan WC juga bukan perkara sepele. Karna ini adalah fase baru dalam perkembangannya, terkadang anak suka gak mau toilet trainingnya gak sesuai sama yang dia mau. Dewa udah beli ganjalan ini dari dulu, tapi Adia gak pernah mau, cenderung ngamuk kalo diajak pup duduk. Akhirnya, kami beli baru, dan Adia sendiri yang pilih!! Iya, emang suka aneh dah anak. *sama kayak Ibunya*

3. Beli Pelapis Kasur.
Ini penting!! Biar tenang selama Adia maen diatas kasur. Dijual koq banyak, bentuknya kayak seprai gitu. Gue sih dulu beli di Inf*rma. Gak terasa kalo tidur diatas pelapis kasur. Emang rada mahal, tapi yang dibeli itu ketenangan sih, jadi worth it. Karna emang bagus bahannya. Kasur pasti aman, yang dicuci kalo kena ompol cuma pelapis aja sama seprai. *kalo lagi sunah kamis malem belecetan, aman gak perlu bentuk pulau di kasur*

4. Merasa Janggal Gak Pake Pampers.
Hari pertama gak pake Pampers, Adia pegangin kemaluannya terus. "Mana?? Ini-nya mana??". Terus dia yang gelisah gitu. Dia buka celana, nanya ke gue "Ini apa Ayah?", sembari nunjuk celana dalem. Lucu liatnya setiap anak memasuki fase baru dalam hidupnya, dan kita bisa jadi saksi.

5. Pipis Nangis.
Seperti perkiraan sebelumnya, hari-hari pertama akan dihiasi dengan ngepel. Tapi yang gak jadi perkiraan, kami akan ngepel dengan kondisi Adia menangis. Jadi, kronologisnya akan seperti ini:
- Adia berdiri gak bergerak,
- Tiba-tiba nangis,
- Dan keluarlah itu pipis membasahi sekitarnya.
Itu bukan nangis kesakitan, tapi nangis merasa bersalah. Karna dia tau, kalo mau pipis ya harus ke WC. Masalahnya she cant control it, yet.

6. Pup Maunya Di Pampers.
Pipis aja udah begitu, gak kebayang kan pas pup gimana? Deg-deg-an. Tapi di awal toilet training, Adia gak pernah pup sembarangan. Tau kenapa? Dia gak mau. Somehow, seperti ketakutan kalo pup sembarangan dia bakal dimarahin. Karna masih toilet training, ada beberapa "kelonggaran" yang kami berikan. Pake pampers kalo bobo, sama kalo lagi pergi jalan-jalan yang mobilitasnya banyak di mobil (dengan asumsi jalanan bakal macet segala). Jadi, setiap mau bobo, dipakein pampers, saat itulah dia bakal broboott.. Keluar dah tuh..

7. Pipis Dijadwalin.
Kalo lagi ada gue-Dewa, Adia bisa dipantau kapan dia mau pipis, karna gampang tanda-tanda-nya. Kalo dia lagi maen, tiba-tiba berenti diam gak bergerak. Langsung bawa ke WC. Akhirnya Arini kami suruh jadwalin bawa Adia ke WC tiap 2 jam sekali. Dan cukup efektif, karna kelamaan dia mulai terbiasa untuk pipis duduk. *belom diajarin wc jongkok nih, karna gue sendiri gak bisa jongkok*

8. Pipis Bilang.
Akhirnya Adia bakal teriak manggil kalo mau pipis. "Pipiiisss". YES!!

9. Pup Nangis.
Ini fase yang rada sulit, karna Adia pengen pup di siang/sore, tapi gak pake pampers. Ngamuk, karna gak ngerti harus bagaimana. Jadi rada maksa juga dudukin dia di wc, tapi belom berhasil. Beberapa kali juga sempet karna mungkin gak tahan, Adia pup di celana-nya. Tapi gak begitu sering. Untung kadang ketahan sama celana dalam plus celana. Kalo langsung pluuukk.. Jatuh dilantai terus dia gak ngomong, bisa gue colek sangkain coklay nyam-ny*m.

10. Pup Berkulitkan Pipis.
Pertamakali Adia pup di WC, itu sedikit mengagetkan. Hari itu sore dirumah, Adia udah pipis di wc. Gak lama, sekitar 10 menit, koq dia bilang "Ayaaahh.. Mau pipis". "Perasaan barusan udah deh", pikir gue dalam hati. Ditaro, duduk, eh, dia pasang muka ngeden. PUP!! Woohooo.. Berhasiiill..

11. Balik ke Fase Awal.
Ini yang akan terjadi kalo niat toilet training-nya setengah-setengah. Balik ke fase awal. Pernah ada satu moment, kami weekend full sama acara, jadi keluar rumah terus seharian dan Adia pake Pampers. Tau apa yang terjadi di hari Seninnya? Balik ke fase awal, Adia jadi suka pipis dicelana lagi, meski pup gak berubah. Harus bener-bener niat. *beginilah punya anak* *capek loh!* *nakut-nakutin*

Sampai tulisan ini dibuat, Adia udah bisa bilang kalo mau pipis dan pup. Gak pernah ngompol dan pup sembarangan, selama gak telat untuk bawa ke wc. Karna dia belom nyampe untuk duduk di jamban.

Weekend kemaren, cek ke dokter, alhamdulillah penyakit ISK-nya Adia udah totally gone. Udah sembuh. Level Adia juga udah makin meningkat, malem gak pake pampers. Bikin blog ini juga terinspirasi tadi tengah malem (entah jam berapa, setengah sadar juga), Adia tiba-tiba bangun dan bilang "Pipiiiisss". *terharu*

Level gak pake pampers sama sekali ini masih sedikit terganggu dengan kejadian dimana Adia pernah pipis 2 kali di mobil. Pertama, di car seat-nya. Kedua, pipis di bangku depan saat car seat masih dicuci. Cukup merepotkan dan memabukkan (baunya) memang. Jadi, sampai hari ini, kalo diperjalanan yang kemungkinan bakal macet, Adia masih pake pampers. Semoga cepet terlewati masa ini deh.

Menurut gue, fase toilet training ini adalah fase belajar bagi orangtua, yang gak mungkin bisa diloncatin gitu aja (enak bener kalo tiba-tiba anak bisa buang kotoran sendiri di wc, berapaan harganya anak kayak gini yak?). Tapi gak perlu takut, selama kerjasama dengan pasangan, pasti bisa koq ngelewatin dengan mulus. Pernah gak ngerasa dulu, pas SMP, ngeliat buku pelajaran anak SMA, terus bergumam: "Aaaaahh.. Gilaaaaa.. Susah banget pelajarannya, gimana ini gue hadapinnya nanti?". Coba, kenyataannya apa? Biasa aja kan? Gak susah-susah amat pelajarannya? Ya itulah maksud gue, selow aje menghadapi fase toilet training ini. Lebih ngeri lagi nanti loh, fase ANAK UDAH BISA MINTA DUIT SENDIRI!!


*anjir udah kelamaan gak ngeblog, kehilangan sentuhan di finishing touch*

HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. KENTANG. Bodo ah.