Di umur yg ke-5 ini, akhirnya gue sama Dewa membuatkan pesta khusus untuk Adia. Saat ultah ke 1-4 sih "dirayain", tapi ya sebatas tiup lilin di sekolah, jalan-jalan, atau cuma sekedar makan aja ramean sekeluarga. Semua dimulai karna Adia sudah punya banyak teman, baik di sekolah maupun tempat lain. Dan dia sering banget dateng ke pesta ultah temen-temen-nya tersebut. Sampe suatu ketika....
Adia: "Adia pengen deh ulang taun dirayain juga. Ada badutnya, terus pada nyanyi lagu ulangtaun gitu Ayah, Ibu. Pasti seru".
Oke Nak, sekali aja ya tapi -___-
Biar Adia gak bete, terus dateng merayakan ultah temennya sedangkan dia gak pernah ngerasain sensasi jadi center of attraction kayak gitu, akhirnya kami memutuskan untuk membuatkan acara yg undang temen-temennya. Inhale. Exhale. Mikirin biaya.
Karna gue sama Dewa pengen sesuatu yg beda (kebanyakan pesta ultah di restoran cepat saji, di playground-indoor, atau di rumah), maka cari konsep yg menarik. Kebetulan Adia sangaaaatt menyukai permainan Outbond. Flying Fox apalagi, seneng banget dia. Di salah satu hotel Bandung, dia pernah naik Flying Fox di pinggir tebing, dengan tingkat kecuraman dan jarak yg lumayan bikin bulu kuduk berdiri waktu gue cobain sendiri. Dengan mengkombinasikan request dia ada badut, kayaknya lucu kalo bikin acara, abis badut, tiup lilin, Adia dan temen-temennya maen outbond!!
Mulai cari-cari tempat outbond deket rumah. Eh, ternyata Dewa pernah inget di Hotel Bumi Wiyata ada tempat naek Flying Fox. Pas kesana, kami langsung jatuh cinta. Fasilitas yg mereka punya sesuai ekspektasi. Ada semacam saung (untuk acara badut, tiup lilin, dll). Mereka juga ada catering untuk makanan. Meja-kursi gampang karna biasanya dijadiin tempat kondangan. Meski ada kekurangan: Mereka BELUM pernah nerima order untuk acara ulang tahun anak di Outbond Adventure. Meski pernah nanganin anak-anak TK yg outbond, tentu berbeda konsepnya. #sikaaaaaattt aja udah cobain.
Karna tempat dan logistik disana udah lengkap, kami juga nyari "perlengkapan" lain diluar. Badut udah sekalian sama dekorasi balon-balon. Backdrop ultah sekaligus sama birthday wishlist buat Adia. Bikin baju kompakan juga ber-4. Tidak lupa kue yg menjadi impian Dewa, berhasil didapatkan dengan tema Inside Out dan menonjolkan sosok "Joy", karakter favorit Adia di film tersebut. Sampe si Dewa minta Yoppi, temen kantornya, buat bikin logo untuk ultah Adia :)))
WE'RE READY!!
Tinggal nunggu undangan pada dateng, yg 70% merupakan temen sekolah Adia, sisa-nya anak dari temen gue sama Dewa. Gak enak juga sih gak bisa ngundang banyak, tapi karna ini pesta-nya Adia, ya harusnya yg dateng, yg Adia kenal, biar dia juga ngerasa nyaman saat acara. Bukan acara Ayah-Ibunya :)
Acara dimulai jam 15.15, molor sedikit sembari nunggu ramean. Badut langsung mengambil alih acara. Maen tebak-tebak-an, ngelawak, plus ada 1 badut karakter (Donal Duck) berdiri didepan, yg membuat takut anak umur <4 taun, tapi jadi bahan bully untuk yg >4 tahun. Dengan Adia duduk di singgasana-nya. Tidak lupa pula, scene yg Adia pengen banget kalo dibikin acara ulang taun, ada lagu: "Siapa yg ulang taun hari ini?" (dengan nada If You Happy and You Know it), terus temen-temennya teriak: "ADIA!!".
"Siapa yg ulang taun hari ini?"
"ADIA!!"
Muka-nya langsung seneng banget kayak abis dapet duit 1 milyar.
Lalu badut-pun memimpin doa untuk Adia, sekaligus acara penutup di ruangan tersebut, tiup lilin..
Dan ini kayaknya acara yg ditunggu-tunggu, Outbond!! Karna sebagian temen Adia yg udah dateng terlebih dahulu, sebelum acara mulai, mereka udah colongan maen beberapa permainan. Jadi pas abis tiup lilin, mukanya langsung pada antusias. Untung aja tim dari Outbound Adventure bisa meng-handle kelakuan anak-anak yg rata-rata umur 5 tahun ini, bayangin aja ada sekitar 30-40 anak lagi lincah-lincahnya -__-
Di permainan Outbond, ada 5 rintangan yg harus dilewati. Ada jembatan biasa tapi goyang, ada yg cuma seutas tali, 2 utas tali, jembatan bentuk pipa, diakhiri dengan Mini Flying Fox. Tim Outbound Adventure juga menyiapkan permainan lain seperti games yg pake pipa gitu, butuh kerjasama tim. Dan klimaks di sesi terakhir. BASAH-BASAHAN!! Anak-anak berlomba untuk ngumpulin bola, juga nangkap ikan untuk dibawa pulang.
Meski badutnya rada garing, semua tamu gak ngisi wish list, Adia gak sempet naek Flying Fox gede, rundown outbound, dan dikit doang yg pake fasilitas kolam renang, OVERALL GUE PUAS sama acara #Adia5thBirthday, pertamakalinya bikin acara ulang taun buat anak sendiri. Yang beda.
Anyway, selamat ulang tahun yg ke-5, Kei Radhiyya Akbar.
"Membuat kamu selalu tersenyum, merupakan salah satu tujuan hidup ini"
A story from the unsuccessful Football Player, Musician.. (and maybe a banker)
Senin, 26 Oktober 2015
Jumat, 25 September 2015
#RodgersOut
Dari dulu, seumur-umur jadi pendukung Liverpool, semua Manager selalu gue bela, kecuali Roy Hodgson. Mereka mau bikin kesalahan kecil atau gede, support selalu sepenuh hati. Begitupula dengan Brendan Rodgers. Waktu musim pertama dengan tiki-taka ala Swansea City dan belum sepenuhnya bisa dijalankan oleh para pemain, gue selalu membela beliau, dari para Fans Glory Hunter Liverpool yg mau perubahan instan. Pembelaan itu terbukti di musim kedua, waktu Liverpool meledak dengan formasi 4-4-2 diamond, trio Sterling-Sturridge-Suarez sangat menyeramkan dan nyaris menjadi juara EPL, kalo Gerrard gak mengacaukan itu semua -_- Musim ketiga sebenernya adalah musim pembuktian bagi Rodgers, dengan pembelian masif di berbagai sektor, tapi ternyata butut. Gue nulis disini: Evaluasi Liverpool 2014/2015.
Jadi dari musim lalu, seharusnya Rodgers sudah di cap GAGAL, dengan excuse Suarez dijual dan Sturridge cedera-pun. Rodgers tidak dapat mempertahankan permainan menyerang seperti musim sebelumnya, formasi juga acak-acak-an. Sangat bagus saat bermain dengan 2 striker, tapi selalu memaksakan 1 striker tunggal, baik dalam formasi 4-1-4-1, 4-2-3-1, maupun 4-3-3 formasi favoritnya sepanjang masa. Padahal punya Balotelli, Borini, Lambert, Sturridge. Malah Sterling dijadiin striker. Auk ah gelap.
Di link yang tersebut, sudah jelas musim ini tetep Rodgers aja yg pegang tim, kesempatan terakhir buat dia membuktikan kalo gue, dan banyak pendukung Liverpool lainnya yang salah, dia yang benar. Dia memang pantas menjadi Manager di klub tercinta ini. Pembelian pemain menunjukkan ambisi tersebut. Akhirnya membeli kiper pelapis berkualitas bagus dalam diri Adam Bogdan. Nathaniel Clyne membuat sektor bek kanan aman dengan kualitasnya. Ditambah pembelian Firmino-Ings-Benteke yg semakin memperlihatkan Rodgers menginginkan permainan menyerang untuk musim ini.
Musim dimulai, 2 kemenangan plus 1 seri tanpa kebobolan membuat harapan pendukung Liverpool agar tim lebih solid dalam bertahan, mulai menimbulkan secercah harapan. Padahal mah golin juga cuma 2, kemenangan dengan permainan pas-pasan sepanjang laga, itu juga lawan Stoke sama Bournemouth. Seri lawan Arsenal juga udah bagus karna kenyataan-nya, hampir sepanjang laga, Arsenal tampil dominan.
Tamparan keras buat pendukung Liverpool yang mulai terbuai akhirnya terjadi di pekan ke-4, saat menjamu Westham di Anfield. Dipermak 0-3!! Gokil. Jujur, gue gak nonton gimana pertandingan-nya karna malem persiapan buat Bali Marathon 2015. Jadi gak bisa evaluasi, cuma bisa geleng-geleng kepala kenapa bisa dibantai, kenapa Coutinho sampe kena kartu merah, dimana pemain seperti dia bukan tipe pemain keras, tapi mungkin karna frustasi dengan permainan dirinya, atau tim.
Baru di 4 pertandingan berikutnya gue bisa mengevaluasi, kenapa Rodgers seperti sudah kehilangan akal dalam menangani Liverpool musim ini..
Lawan Manchester United.
Sewaktu pengumuman starter keluar, gue sangat antusias melihat susunan pemain. Mignolet, Clyne, Gomez, Skrtel, Lovren, Can, Milner, Lucas, Firmino, Benteke, Ings. WOOWW!! Rodgers mau coba maen 4-4-2 diamond lagi. Bahkan, formasi yg ditampilkan di tivi-pun 4-4-2 diamond. Tapi apa yang terjadi? Rodgers maen 4-3-3 saat menyerang, dan 4-1-4-1 saat bertahan. Ings-Firmino ditaro dipinggir, membuat permainan mereka sama sekali gak berkembang. Firmino bukan tipe pemain yg berlari sambil menggiring bola, Ings mirip Borini, minim kemampuan dribbling, tapi sebenernya finisher handal. Rodgers Tidak Menempatkan Pemain Di Posisi Asli-nya Dan Menggunakan Formasi Tidak Pas.
Lawan Bordeaux.
Di laga ini, karna mungkin udah puyeng, dia balik pake formasi 3-4-2-1, yg membuat dirinya "dipertahankan" oleh pihak klub, dengan hasil yg lumayan memuaskan. Meski menurunkan banyak pemain cadangan (plus pemain muda), juga di bench, tapi cukup menarik perubahan yg dilakukan. Karna menunjukkan dia sadar di pertandingan sebelumnya melakukan kesalahan. Tapi ternyata belum ada perubahan signifikan, apalagi saat Toure cedera, Can harus turun jadi salah satu back three, Rossiter-Chirivella handle lini tengah, 2 pemain muda bertubuh mungil -_- Bukan mereka-nya yg menjadi kesalahan Rodgers dalam pertandingan ini, gue sih seneng kalo ada pemain muda dikasih kesempatan main. Gol hoki Lallana-pun hadir saat mereka berdua main. Pergantian pemain yg membuat gue bingung. Origi diganti Ings. Oke, mungkin Origi kecapean jadi lone striker. Striker, diganti striker, gak ada perubahan skema. Pergantian terakhir doooonnng. Rossiter diganti Brannagan!! Buat apaan? Padahal kalo mau "membunuh" pertandingan, bisa masukin Firmino, Can naekin jadi pemain tengah, maen 4 bek. Hasilnya? Gak ada perubahan, dan Bordeaux bisa menyamakan skor. Rodgers Melakukan Pergantian Percuma Dan Tidak Merubah Skema Sama Sekali.
Lawan Norwich.
Sebelum mulai, seneng banget Sturridge comeback. Ditambah susunan pemain yg diturunkan Rodgers. kayaknya gak PHP nih 4-4-2 diamond dimaenin. Eh, 3-4-1-2, Can jadi bek -_- Okelah, rasa kecewa masih bisa tertutupi dengan liat duet impian: Sturridge-Benteke. Tapi koq maen masih gitu-gitu aja. Malah Norwich yg keliatan semangat dan penuh determinasi, apalagi abis Ings golin. Rodgers kembali mengulang kesalahan di 2 pertandingan terdahulu. Sturridge keluar, Lallana masuk, gak mau menang apa. Satu-satunya pergantian positif adalah saat Lucas keluar diganti Firmino, menit 72. Langsung semua kesalahan yg dia buat coba diperbaiki. Formasi langsung berubah menjadi 4 bek, dan Firmino sangat support Ings didepan. Liverpool sangat mendominasi di 18 menit terakhir tersebut. Norwich hanya dapat bertahan dari gempuran. Tapi gak cukup waktu untuk kembali membobol gawang lawan. Rodgers Telat Bereaksi Dan Melakukan Perubahan.
Lawan Carlisle.
Ini pertandingan gak disiarin, mau streaming juga gak bisa. Tapi liat susunan pemain yg diturunkan, cuma Adam Bogdan dan Joe Allen aja pemain "cadangan" yg jadi starting 11. Di bench-pun masih ada Ibe, Coutinho, Origi, kalo situasi "diluar kendali". Sebenernya gak perlu sampe begini, karna lawan hanya anggota dari League Two, kasta ke-empat piramida sepakbola Inggris. Maen di Anfield pula. Lawan Bordeaux aja hampir semua pemain cadangan plus pemain muda koq. Terlihat di sini Rodgers udah mulai panik akan posisinya. Eh, ternyata malah seri 1-1, dan cuma menang adu penalti, itu juga karna kemampuan individual Bogdan. Aduh, pusing. Rodgers Udah Gak Jelas Mau Ngapain Lagi Di Tim.
Dari 4 pertandingan tersebut, udah waktunya gue melakukan hal yang sangat jarang, yaitu meminta klub mengganti Manager secepatnya, sebelum semua terlambat. Udah banyak kesempatan yg diberikan kepada Rodgers, 4 pertandingan diatas sih cuma klimaks-nya aja dari rasa frustasi gue sebagai pecinta Liverpool.
Iya tau, memang gak akan menjamin apapun misalnya diganti dengan Juergen Klopp atau Carlo Ancelotti yang santer diberitakan akhir-akhir ini, Liverpool akan mendapatkan hasil positif kedepannya, tapi setidaknya Manager baru akan membawa gairah yang berbeda didalam tim, dan yang paling penting, ADA PERUBAHAN. Setiap perubahan, menimbulkan harapan baru.
Ones that needed by every Liverpool Fans,
HOPE.
#RodgersOut
Jadi dari musim lalu, seharusnya Rodgers sudah di cap GAGAL, dengan excuse Suarez dijual dan Sturridge cedera-pun. Rodgers tidak dapat mempertahankan permainan menyerang seperti musim sebelumnya, formasi juga acak-acak-an. Sangat bagus saat bermain dengan 2 striker, tapi selalu memaksakan 1 striker tunggal, baik dalam formasi 4-1-4-1, 4-2-3-1, maupun 4-3-3 formasi favoritnya sepanjang masa. Padahal punya Balotelli, Borini, Lambert, Sturridge. Malah Sterling dijadiin striker. Auk ah gelap.
Di link yang tersebut, sudah jelas musim ini tetep Rodgers aja yg pegang tim, kesempatan terakhir buat dia membuktikan kalo gue, dan banyak pendukung Liverpool lainnya yang salah, dia yang benar. Dia memang pantas menjadi Manager di klub tercinta ini. Pembelian pemain menunjukkan ambisi tersebut. Akhirnya membeli kiper pelapis berkualitas bagus dalam diri Adam Bogdan. Nathaniel Clyne membuat sektor bek kanan aman dengan kualitasnya. Ditambah pembelian Firmino-Ings-Benteke yg semakin memperlihatkan Rodgers menginginkan permainan menyerang untuk musim ini.
Musim dimulai, 2 kemenangan plus 1 seri tanpa kebobolan membuat harapan pendukung Liverpool agar tim lebih solid dalam bertahan, mulai menimbulkan secercah harapan. Padahal mah golin juga cuma 2, kemenangan dengan permainan pas-pasan sepanjang laga, itu juga lawan Stoke sama Bournemouth. Seri lawan Arsenal juga udah bagus karna kenyataan-nya, hampir sepanjang laga, Arsenal tampil dominan.
Tamparan keras buat pendukung Liverpool yang mulai terbuai akhirnya terjadi di pekan ke-4, saat menjamu Westham di Anfield. Dipermak 0-3!! Gokil. Jujur, gue gak nonton gimana pertandingan-nya karna malem persiapan buat Bali Marathon 2015. Jadi gak bisa evaluasi, cuma bisa geleng-geleng kepala kenapa bisa dibantai, kenapa Coutinho sampe kena kartu merah, dimana pemain seperti dia bukan tipe pemain keras, tapi mungkin karna frustasi dengan permainan dirinya, atau tim.
Baru di 4 pertandingan berikutnya gue bisa mengevaluasi, kenapa Rodgers seperti sudah kehilangan akal dalam menangani Liverpool musim ini..
Lawan Manchester United.
![]() |
| Diambil dari www.thafcc.wordpress.com |
Lawan Bordeaux.
![]() |
| Diambil dari www.bbc.co.uk |
Lawan Norwich.
![]() |
| Diambil dari www.id.premierleague.com |
Lawan Carlisle.
![]() |
| Diambil dari www.telegraph.co.uk |
Dari 4 pertandingan tersebut, udah waktunya gue melakukan hal yang sangat jarang, yaitu meminta klub mengganti Manager secepatnya, sebelum semua terlambat. Udah banyak kesempatan yg diberikan kepada Rodgers, 4 pertandingan diatas sih cuma klimaks-nya aja dari rasa frustasi gue sebagai pecinta Liverpool.
Iya tau, memang gak akan menjamin apapun misalnya diganti dengan Juergen Klopp atau Carlo Ancelotti yang santer diberitakan akhir-akhir ini, Liverpool akan mendapatkan hasil positif kedepannya, tapi setidaknya Manager baru akan membawa gairah yang berbeda didalam tim, dan yang paling penting, ADA PERUBAHAN. Setiap perubahan, menimbulkan harapan baru.
Ones that needed by every Liverpool Fans,
HOPE.
![]() |
| Diambil dari www.theguardian.com |
Senin, 07 September 2015
Adia and Her 1st (own) Race
Berolahraga merupakan salah satu aktivitas penting didalam hidup. Malah ada anekdot yang bilang, mending merokok tetapi olahraga rutin. Daripada tidak merokok, tetapi jarang olahraga. Gue sih gak demen ya ilustrasi-nya begitu, mau gimana juga ngerokok gak ada sehat-sehatnya -__-
Tapi simpel-nya aja, kenapa menurut gue olahraga itu penting:
Secara Batin.
Setelah melakukan olahraga (dengan benar), tubuh akan mengeluarkan hormon endorphin. Itu adalah hormon "kebahagiaan". Yang biasanya muncul setelah elu beraktivitas yg menyenangkan. Abis makan enak, liburan yg seru, bahkan juga orgasme setelah ML. Pernah ngerasain kan gimana nikmatnya? Pikiran santai, perasaan senang, dan sebagainya.
Secara Fisik.
Dengan terus melakukan kegiatan yg berulang dalam olahraga, otomatis tubuh akan menyesuaikan. Misal, latihan cardio seperti bersepeda, lari, berenang, yg melatih fungsi pernapasan secara maksimal. Bukan hanya organ dalam, tetapi juga organ luar, karna akan menemukan bentuk tubuh yg ideal. Gak pernah liat kan atlet aktif, tapi bermasalah dengan obesitas? Yaaaa.. Mungkin atlet sumo pengecualian kali ya :))
Kalo Batin terjaga, Fisik juga sehat, hidup juga akan terasa lebih mudah untuk dinikmati.Gak cuma Batin sama Fisik aja sih sebenernya, duit juga penting. PPPFFFTTT..
Dari kecil, hidup gue emang selalu suka bergelut dengan olahraga. Mulai dari maen tap jongkok, benteng, kasti. Sampe yg beneran, kayak basket. Itu sebelum tangan patah pas kelas 6 SD. Dan akhirnya meninggalkan olahraga tangan (ini bener loh, bahkan gue pertamakali cokil pas kuliah. #pencitraan), karna masih trauma, dan beralih ke olahraga menggunakan kaki, sepakbola.
Karna menurut gue penting, hal tersebut juga akhirnya tertanam untuk semua anggota keluarga saat ini. Alhamdulillah Dewa yg ngenalin gue (kembali) sama olahraga lari. Jadi udah gak perlu bujuk dia buat olahraga, biar badan gak makin melar karna faktor usia dan gue jadi gak napsu lagi sama dia nanti, kan berabe. Ke anak-pun begitu, Adia udah dari kecil gue kenalin sama olahraga. Mulai dari sering gue ajak nonton tayangan sepakbola, bahkan Ultimate Fighting Championship (UFC). Iya, UFC. Karna itu juga merupakan salah satu jenis olahraga, yaitu beladiri. Sampe beberapa kali gue ajak kalo lagi Fun Run di UI, yang notabene tinggal ngesot dari rumah. Kagak deng, mesti naek kendaraan juga. Mayan juga kalo ngesot sampe 4KM, koreng yang ada kaki lu nanti. Budukan dah.
Gambar diatas waktu race di UI, lari barengan sama Dewa dan Adia yg full stroller dari start sampe finish. Sayang medali cuma buat 50 finishers pertama, jadi pulang gak bawa oleh-oleh. Untung Adia satu-satunya peserta kecil disana, jadi gak iri-iri-an kalo ada yg seusianya bawa medali. #MasalahUtamaBalita
Kalo yang ini, race di UI juga, dengan ketentuan sama, cuma 20 finishers pertama dapet medali. Disini gue lari duluan biar bisa dapetin medali, dan muter balik buat ngejemput Dewa-Adia. Disini pula Adia mulai "berkembang", karna gak Full 5K di stroller. Sesekali dia turun dan ikut berlari, kalo capek naek stroller lagi. Dan kayaknya lumayan bisa dapet 1K berlari sepanjang track.
Makin kesini, makin sering gue libatin Adia kalo lagi ada acara sama temen-temen. Gambar diatas waktu Ayah ASI Runners bikin "Jogging for Breastfeeding" di Car Free Day. Seru, lari ramean sama anak-anak juga yang sepantaran. Meski gak full lari, dan akhirnya capek (serta ketiduran) di stroller. At least Adia makin terbiasa dengan aktivitas olahraga.
Minggu 30 Agustus 2015
Setelah Dewa hamil 6 bulan Carra, dan sudah jelas jenis kelamin-nya perempuan (lagi), banyak yg bilang kami harus kembali punya anak ketiga, yang berjenis kelamin laki-laki, biar bisa nerusin darah olahraga dalam diri gue. Ah, anak perempuan juga bisa koq..
Jarak tergantung sama umur saat hari-H. 5 tahun kebawah, 100m. 5 tahun keatas, 400m. Kalo boleh milih, jujur, pengen-nya Adia di 400m biar lebih jauh dan menantang. Apa daya umur tidak mencukupi. Meski tenang juga sih cuma 100m. Dan malah jadi lebih memotivasi Adia, ternyata Children Sprint ada podium dan dapet duit untuk 5 besar. Dengan umur 4 tahun 10 bulan, harusnya dia merupakan anak yg paling besar diantara lainnya. Ya gak besar deh, TUA :D
And Here You Are!! At Start Line.
Saat elu jadi orangtua, poto-poto sederhana begini sangat membuat hati senang. Karna Adia melakukan-nya tanpa terpaksa, dengan kemauan-nya sendiri, juga dengan hati yang riang gak ada beban. Cuma di video-nya aja kedengeran suara Dewa: "Ayo Adia, Fokus!! Lari yang cepat!!" -___-
Sayang gue gak finish Marathon dalam waktu 3 jam 30 menit, jadi gak bisa ngeliat Adia and Her 1st (own) Race.
Race pertama dia tanpa stroller.
Race pertama dia keluar keringet dengan jerih payah.
Race pertama dia dapetin medali dengan tenaga sendiri!!
YEAAAYY!! YOU DID IT MYGIRL!! YOUR 1ST FINISHERS MEDAL!!
Meski gak naek podium dan dapet duit buat makan-makan(daging babi buat Ayahnya), Adia begini aja gue seneng-nya bukan kepalang. Dia berhasil melakukannya sendiri, tanpa bantuan kami sama sekali. Oh Man, She Grown Up So Fast :((
Mudah-mudahan ini bukan Finishers Medal Adia yg pertama dan terakhir.
Juga bukan Marathon Finishers Medal gue yg terakhir.
Adia ikut run race gak dipaksa, emang kemauan dia. Mungkin gemes kali dia ya kalo gue lagi latian, Selasa sore sama Sabtu pagi suka ninggalin. Dia ngeliat gue pake sepatu, pemanasan, sampe keluar rumah lari. Kan anak-anak paling jago untuk mencontoh. Terutama mencontoh orang-orang terdekatnya, siapa lagi kalo bukan orangtua-nya sendiri bukan?
Sekali lagi, gue gak bermimpi dia jadi atlet nasional, menang di PON, bawa nama Indonesia di Olimpiade. Karna itu terlalu ambisius.
Yang terpenting, Adia terbiasa olahraga dari kecil. Bukan buat gue, tapi buat dirinya sendiri.
Tapi simpel-nya aja, kenapa menurut gue olahraga itu penting:
Secara Batin.
Setelah melakukan olahraga (dengan benar), tubuh akan mengeluarkan hormon endorphin. Itu adalah hormon "kebahagiaan". Yang biasanya muncul setelah elu beraktivitas yg menyenangkan. Abis makan enak, liburan yg seru, bahkan juga orgasme setelah ML. Pernah ngerasain kan gimana nikmatnya? Pikiran santai, perasaan senang, dan sebagainya.
Secara Fisik.
Dengan terus melakukan kegiatan yg berulang dalam olahraga, otomatis tubuh akan menyesuaikan. Misal, latihan cardio seperti bersepeda, lari, berenang, yg melatih fungsi pernapasan secara maksimal. Bukan hanya organ dalam, tetapi juga organ luar, karna akan menemukan bentuk tubuh yg ideal. Gak pernah liat kan atlet aktif, tapi bermasalah dengan obesitas? Yaaaa.. Mungkin atlet sumo pengecualian kali ya :))
Kalo Batin terjaga, Fisik juga sehat, hidup juga akan terasa lebih mudah untuk dinikmati.
Dari kecil, hidup gue emang selalu suka bergelut dengan olahraga. Mulai dari maen tap jongkok, benteng, kasti. Sampe yg beneran, kayak basket. Itu sebelum tangan patah pas kelas 6 SD. Dan akhirnya meninggalkan olahraga tangan (ini bener loh, bahkan gue pertamakali cokil pas kuliah. #pencitraan), karna masih trauma, dan beralih ke olahraga menggunakan kaki, sepakbola.
Karna menurut gue penting, hal tersebut juga akhirnya tertanam untuk semua anggota keluarga saat ini. Alhamdulillah Dewa yg ngenalin gue (kembali) sama olahraga lari. Jadi udah gak perlu bujuk dia buat olahraga, biar badan gak makin melar karna faktor usia dan gue jadi gak napsu lagi sama dia nanti, kan berabe. Ke anak-pun begitu, Adia udah dari kecil gue kenalin sama olahraga. Mulai dari sering gue ajak nonton tayangan sepakbola, bahkan Ultimate Fighting Championship (UFC). Iya, UFC. Karna itu juga merupakan salah satu jenis olahraga, yaitu beladiri. Sampe beberapa kali gue ajak kalo lagi Fun Run di UI, yang notabene tinggal ngesot dari rumah. Kagak deng, mesti naek kendaraan juga. Mayan juga kalo ngesot sampe 4KM, koreng yang ada kaki lu nanti. Budukan dah.
Gambar diatas waktu race di UI, lari barengan sama Dewa dan Adia yg full stroller dari start sampe finish. Sayang medali cuma buat 50 finishers pertama, jadi pulang gak bawa oleh-oleh. Untung Adia satu-satunya peserta kecil disana, jadi gak iri-iri-an kalo ada yg seusianya bawa medali. #MasalahUtamaBalita
Kalo yang ini, race di UI juga, dengan ketentuan sama, cuma 20 finishers pertama dapet medali. Disini gue lari duluan biar bisa dapetin medali, dan muter balik buat ngejemput Dewa-Adia. Disini pula Adia mulai "berkembang", karna gak Full 5K di stroller. Sesekali dia turun dan ikut berlari, kalo capek naek stroller lagi. Dan kayaknya lumayan bisa dapet 1K berlari sepanjang track.
Makin kesini, makin sering gue libatin Adia kalo lagi ada acara sama temen-temen. Gambar diatas waktu Ayah ASI Runners bikin "Jogging for Breastfeeding" di Car Free Day. Seru, lari ramean sama anak-anak juga yang sepantaran. Meski gak full lari, dan akhirnya capek (serta ketiduran) di stroller. At least Adia makin terbiasa dengan aktivitas olahraga.
Minggu 30 Agustus 2015
Setelah Dewa hamil 6 bulan Carra, dan sudah jelas jenis kelamin-nya perempuan (lagi), banyak yg bilang kami harus kembali punya anak ketiga, yang berjenis kelamin laki-laki, biar bisa nerusin darah olahraga dalam diri gue. Ah, anak perempuan juga bisa koq..
Jarak tergantung sama umur saat hari-H. 5 tahun kebawah, 100m. 5 tahun keatas, 400m. Kalo boleh milih, jujur, pengen-nya Adia di 400m biar lebih jauh dan menantang. Apa daya umur tidak mencukupi. Meski tenang juga sih cuma 100m. Dan malah jadi lebih memotivasi Adia, ternyata Children Sprint ada podium dan dapet duit untuk 5 besar. Dengan umur 4 tahun 10 bulan, harusnya dia merupakan anak yg paling besar diantara lainnya. Ya gak besar deh, TUA :D
And Here You Are!! At Start Line.
Saat elu jadi orangtua, poto-poto sederhana begini sangat membuat hati senang. Karna Adia melakukan-nya tanpa terpaksa, dengan kemauan-nya sendiri, juga dengan hati yang riang gak ada beban. Cuma di video-nya aja kedengeran suara Dewa: "Ayo Adia, Fokus!! Lari yang cepat!!" -___-
Sayang gue gak finish Marathon dalam waktu 3 jam 30 menit, jadi gak bisa ngeliat Adia and Her 1st (own) Race.
Race pertama dia tanpa stroller.
Race pertama dia keluar keringet dengan jerih payah.
Race pertama dia dapetin medali dengan tenaga sendiri!!
| Sama Maika, anak Bli Kholik yg juga berhasil finish di 400m |
YEAAAYY!! YOU DID IT MYGIRL!! YOUR 1ST FINISHERS MEDAL!!
Meski gak naek podium dan dapet duit buat makan-makan
Mudah-mudahan ini bukan Finishers Medal Adia yg pertama dan terakhir.
Juga bukan Marathon Finishers Medal gue yg terakhir.
Adia ikut run race gak dipaksa, emang kemauan dia. Mungkin gemes kali dia ya kalo gue lagi latian, Selasa sore sama Sabtu pagi suka ninggalin. Dia ngeliat gue pake sepatu, pemanasan, sampe keluar rumah lari. Kan anak-anak paling jago untuk mencontoh. Terutama mencontoh orang-orang terdekatnya, siapa lagi kalo bukan orangtua-nya sendiri bukan?
Sekali lagi, gue gak bermimpi dia jadi atlet nasional, menang di PON, bawa nama Indonesia di Olimpiade. Karna itu terlalu ambisius.
Yang terpenting, Adia terbiasa olahraga dari kecil. Bukan buat gue, tapi buat dirinya sendiri.
My 4th Marathon: BII Maybank Bali Marathon 2015
YES!! Tercapai juga untuk tahun ini, ngikutin 2x Marathon. 1x Overseas, 1x Domestic. Seperti taun lalu di Singapore dan Jakarta, tahun ini berhasil di Filipina dan Bali!! Alhamdulillah.
Tapi sedih juga sih, soalnya di Indonesia cuma Jakarta sama Bali doang yg bikin Marathon. Jadi kalo masih ngikutin target 2x tiap tahun-nya, harus Overseas dua-duanya mulai taun depan :(( Bagi duiiiiittt.. Atau ajarin ilmu ngepet yg baik dan benaaaaarrr..
2 tahun yg lalu sebenernya ikutan juga BII Maybank Bali Marathon, tapi kategori 10K, sama Dewa beduaan sekalian 2nd Honeymoon. Taun lalu gak ikutan, selain gak ada duitnya, udah keburu ikutan The Jakarta Marathon. Akhirnya taun ini baru kesampean, dengan rute yang sama persis tanpa perubahan. Persiapan-nya sedikit norak nih, bikin hair tattoooo :* Btw, ini cukur di Kings Cute, jalan alternatif cibubur ke arah kota wisata, sekitar 400 meter sebelah kiri setelah Giant Extra. Recommended!!
Banyak yg bilang, rute di Bali ini berat banget, karna bakal sering nemuin tanjakan-turunan. Banyak yg nyaranin, enjoy aja disana, gak usah mikirin mecahin rekor waktu Personal Best gue, 4 jam 1 menit di Jakarta taun lalu. Tapi gak ada salahnya mencoba, jadi tetep latihan sesuai arahan Coach Asics, dengan nambahin pace dan distance. Kayak latian buat Jakarta Marathon yg ternyata sangat berhasil kalo liat dari cacatan waktu. Bisa melahap latian 25-25-30-35-25KM sesuai waktu yg ditentukan, sebulan sebelumnya. Jadi cukup pede, meski emang realistis aja kalo denger cerita track-nya berat.
Tanggal 27 Agustus malam sudah mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, bersama Dewa-Adia-Carra, yang HARUS selalu diikutkan kalo gue ikutan Marathon, gimana gak bokek iniiiii :( Sekalian jalan-jalan, tapi emang Adia juga didaftarin buat ikutan "Children Sprint" sih, yang bakal gue tulis cerita-nya di blog setelah ini. Kalo inget -_-
Jumat malam langsung ambil Racepack buat gue sama Adia. Lagi-lagi ngambil-nya di Westin Hotel, mayan cuma 5 menit dari hotel tempat kami nginep, daerah Nusa Dua. Dan lagi-lagi gak ada hambatan berarti. Lancar banget, panitia juga rapi, mempermudah urusan. Emang datengnya sekitar setengah jam sebelum tutup sih, mungkin kalo siang/sore rame. Expo-nya kurang gede karna sponsor gak begitu banyak, tapi mayan dah buat poto-poto mah. Gaya-gayaan bilang Expo kurang gede, niat belanja juga kagak lu.
Rute-nya masih sama, telen ludah juga ngeliat Elevation Gain-nya, bagi gue yg takut sama tanjakan ini. Gimana mau ikutan Trail kalo begini aje jiper yak.
Hari Jumat pula rencana mau jogging 5KM, apa daya gak bisa pagi, karna numpang nginep dirumah Mega-Melti (makasih ya guuyys) di Jimbaran banyak bener jaing-nya. Yang ada bukan jogging, malah sprint nanti. Yaudah deh, gue pikir sore aja di private beach halaman belakang hotel, mayan kan muter-muter aja nyeker di pasir. Eh, Adia malah ngajakin berenang. Gak jadi lagi dah. Maaf ya Coach, segalanya buat anak sih.Padahal mah emang demen ngeliatin bule bikinian seliweran depan mata.
Sabtu, ketemuan sama temen-temen Ayah ASI runners, nginep di Villa deket Start Line (makasih Bli Kholik yg langsung cari pengganti, begitu Villa yg gue booking di cancel sama pihak Agoda-dot-com). Gak deket juga sih, sekitar 2,5km. Tapi lumayan menghemat waktu tidur, bisa berangkat jam 4 lewat, disaat banyak yg ikutan naek shuttle bus dari jam setengah 3 pagi.
Minggu, 30 Agustus 2015
Dan hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Malemnya sempet Carbo Loading Homemade bikinan rame-rame. Menu-nya Spaghetti, Makaroni, Roti. Mayan, daripada jajan lagi kan, patungan belanja juga di carrefour sore-nya. Jadi Padang deh lu semua gue ajarin.
Berangkat dari Villa sekitar jam 04.15. Gun Start Full Marathon (FM) jam 05.00, Half Marathon jam 05.30. Tapi rombongan HM, MasYandra sama BliKholik juga ikutan berangkat bareng gue, Carlo, MasDidi. Langsung masuk antrian. Wuuuiihh.. Rame bener Bali Marathon emang dari tahun-tahun, jadi semangat buat nyobain pertamakali rute-nya. Super excited.
KM 0-5.
Karna disana Adzan Subuh jam 05.09, mau gak mau, gak bisa Subuhan dulu baru start. Untungnya panitia nyediain tempat Solat di sebelah kanan jalan, lengkap dengan toilet, ambil wudhu, dan karpet yg bisa nampung 10-15 orang. Jadi dari garis start udah bawa sarung, plus udah ambil wudhu sebelum berangkat. Rada berat di 5KM awal, harus nahan kesabaran karna dibalap-balapin sama orang, plus nahan kencing biar wudhu gak batal. Kebayang kalo sampe batal, harus antri lagi -_- Dan keputusan gue tepat. Toilet di tempat Solat rame, ngambil wudhu antri, dan sarung dipake gantian. Jadi begitu gue nyampe, buka sepatu, pake sarung, langsung Solat. Surat pendek aja, biar cepet :)) Carlo gantian pinjem sarung, gue lanjut duluan lari. Karna udah berat banget dan toilet antri panjang, akhirnya gue ngencing di pinggir jalan, maaf ya Bali, maaf ya panitia :O
KM 5-10
Ini masih luruuuuuusss aja, mulai nambah pace setelah 5 KM awal jogging, takut kalo ngebut, pas Solat kaki pada kram. Itung-itung pemanasan. Disini mulai balapin orang yg mau sok-sok-an cepet dari start, belom 10K udah engap.
KM 10-20
Mulai merasakan aura dari Bali Marathon. Tanjakan, penduduk yg support, anak-anak pada pake baju adat nyemangatin, dan suasana pedesaan yg penuh dengan pemandangan sawah, pohon rindang. Sama BANYAK ANJING MENGGONGGONG. Bikin mikir: "Sprint, kagak, sprint, kagak".
KM 20-21
Kenapa gue inget, karna di titik ini, ada cekungan parah. Turunan tajam (bener tajam, sampe elu harus ngerem biar gak gelinding), dilanjutin sama tanjakan sama pe'a-nya. Gokil dah. Panitia bilang pas lagi turunan: "Jangan ditahan Mas, lepasin aja". Palamu. Nyusruk yg ada nanti.
KM 21-30
Sebenernya di Bali Marathon, ini jarak yg sangat mempengaruhi hasil akhir elu. Kalo udah ngerasa capek, engap, lemes, bisa dipastikan gak akan sesuai target. Tapi kalo masih kuat, belum terlalu lelah, masih on the way ke target pribadi. Apalagi didukung sama tanjakan yg cukup panjang. Kemampuan Marathon elu bakal diuji banget disini. Dari KM5 gue gak pernah di salip sama pelari lain dari belakang, cuma sama 1 orang doang di sekitar KM ini, pake baju item tulisan #RUNMDN katanya sih anak Medan. Gile pas dia nyalip, adrenalin gue langsung terbakar, niat gak mau langsung nyalip lagi, tapi ikutin pace dia aja, dibelakangnya 2-3 meter. Tapi langsung keinget "Run With Your Own Pace". Mungkin bisa gue ngimbangin, tapi bakal habis di KM 30an. Silahkan Bang lewat..
KM 30-31
Kenapa gue inget lagi, di titik ini ada cekungan kedua!! Sedikit mirip sama cekungan pertama dari jarak sampe elevasi-nya. Turunan-tanjakan tajam. Edan. Banyak yg cuma berani jalan disini, karna emang rawan cedera kalo kaki gak begitu kuat nahan beban tubuh. Menyeramkan.
KM 31-40
Waaahh.. Ini udah rute kesukaan gue. Pertama, turunan panjaaaaanngg banget. Tapi turunan yg bisa nambah pace, bukan turunan kayak di 2 cekungan sebelumnya yg harus nahan badan. Dan juga udah gabung sama pelari HM yg mulai pada jalan kaki. Enak aja ngebalap orang, berasa kayak Kenyan :))
KM 40-42,195
Udah gak kerasa lagi ini mah capek-nya, wong tinggal dikit lagi. Yang ada malah super ngebut (keliatan dari catatan waktu, negative split disini), dengan mikir: "Abisin ah tenaga gue, toh kalo udah beres bisa langsung duduk, tiduran, minum bir, makan babi, ML, semua bisa dilakuin. #sikaaaaattt".
FINIIIIIISSSSHH!!!
Yang paling keren dari Bali Marathon ini: TOILET DI RUMAH PENDUDUK. Mereka gak pake toilet portable kayak kebanyakan race. Mantab. Sayang aja gue gak nyobain salah satu-nya. Gimana mau nyobain kalo di tiap rumah ada anjing :(
Official Result:
Peringkat 65 dari 890 All Marathon Finishers.
Peringkat 48 dari 723 Male Marathon Finishers.
Peringkat 37 dari 790 All National Marathon Finishers.
Peringkat 27 dari 647 All National Male Marathon Finishers.
Artinya, dengan catatan waktu 4 jam 13 menit 49 detik, cuma ada 26 pelari pria nasional yg finish lebih cepat dari gue. Result yg aneh, waktu pertamakali keluar, gue peringkat 24 -__-
Tapi gak papa, buat Pelari Senang-Senang kayak gue, yang latian cuma 2x seminggu, itu juga kalo lagi kagak males, Not A Bad Result At All.
See You on My Next Marathon, Hope It'll be Tokyo.
AMIIIIEENNN..
"Before 26 I was concentrating on farming and had never run before",
Dennis Kimetto, 30, Marathon World Record Holder, 2 Hour and 2 Minutes.
#IfYouKnowWhatImean
#MariLari
NB: Untuk panitia, sarung gue ketinggalan di tempat Solaaaaattt.. Tolong kirimin ke Depoookk..
Tapi sedih juga sih, soalnya di Indonesia cuma Jakarta sama Bali doang yg bikin Marathon. Jadi kalo masih ngikutin target 2x tiap tahun-nya, harus Overseas dua-duanya mulai taun depan :(( Bagi duiiiiittt.. Atau ajarin ilmu ngepet yg baik dan benaaaaarrr..
2 tahun yg lalu sebenernya ikutan juga BII Maybank Bali Marathon, tapi kategori 10K, sama Dewa beduaan sekalian 2nd Honeymoon. Taun lalu gak ikutan, selain gak ada duitnya, udah keburu ikutan The Jakarta Marathon. Akhirnya taun ini baru kesampean, dengan rute yang sama persis tanpa perubahan. Persiapan-nya sedikit norak nih, bikin hair tattoooo :* Btw, ini cukur di Kings Cute, jalan alternatif cibubur ke arah kota wisata, sekitar 400 meter sebelah kiri setelah Giant Extra. Recommended!!
| Ini namanya Mas Dedi, langganan kang cukur David Naif juga denger-denger. |
Banyak yg bilang, rute di Bali ini berat banget, karna bakal sering nemuin tanjakan-turunan. Banyak yg nyaranin, enjoy aja disana, gak usah mikirin mecahin rekor waktu Personal Best gue, 4 jam 1 menit di Jakarta taun lalu. Tapi gak ada salahnya mencoba, jadi tetep latihan sesuai arahan Coach Asics, dengan nambahin pace dan distance. Kayak latian buat Jakarta Marathon yg ternyata sangat berhasil kalo liat dari cacatan waktu. Bisa melahap latian 25-25-30-35-25KM sesuai waktu yg ditentukan, sebulan sebelumnya. Jadi cukup pede, meski emang realistis aja kalo denger cerita track-nya berat.
Tanggal 27 Agustus malam sudah mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, bersama Dewa-Adia-Carra, yang HARUS selalu diikutkan kalo gue ikutan Marathon, gimana gak bokek iniiiii :( Sekalian jalan-jalan, tapi emang Adia juga didaftarin buat ikutan "Children Sprint" sih, yang bakal gue tulis cerita-nya di blog setelah ini. Kalo inget -_-
Jumat malam langsung ambil Racepack buat gue sama Adia. Lagi-lagi ngambil-nya di Westin Hotel, mayan cuma 5 menit dari hotel tempat kami nginep, daerah Nusa Dua. Dan lagi-lagi gak ada hambatan berarti. Lancar banget, panitia juga rapi, mempermudah urusan. Emang datengnya sekitar setengah jam sebelum tutup sih, mungkin kalo siang/sore rame. Expo-nya kurang gede karna sponsor gak begitu banyak, tapi mayan dah buat poto-poto mah. Gaya-gayaan bilang Expo kurang gede, niat belanja juga kagak lu.
Rute-nya masih sama, telen ludah juga ngeliat Elevation Gain-nya, bagi gue yg takut sama tanjakan ini. Gimana mau ikutan Trail kalo begini aje jiper yak.
Hari Jumat pula rencana mau jogging 5KM, apa daya gak bisa pagi, karna numpang nginep dirumah Mega-Melti (makasih ya guuyys) di Jimbaran banyak bener jaing-nya. Yang ada bukan jogging, malah sprint nanti. Yaudah deh, gue pikir sore aja di private beach halaman belakang hotel, mayan kan muter-muter aja nyeker di pasir. Eh, Adia malah ngajakin berenang. Gak jadi lagi dah. Maaf ya Coach, segalanya buat anak sih.Padahal mah emang demen ngeliatin bule bikinian seliweran depan mata.
Sabtu, ketemuan sama temen-temen Ayah ASI runners, nginep di Villa deket Start Line (makasih Bli Kholik yg langsung cari pengganti, begitu Villa yg gue booking di cancel sama pihak Agoda-dot-com). Gak deket juga sih, sekitar 2,5km. Tapi lumayan menghemat waktu tidur, bisa berangkat jam 4 lewat, disaat banyak yg ikutan naek shuttle bus dari jam setengah 3 pagi.
| Mas Yandra (HM), Mas Didi (FM), Gue, Bli Kholik (HM), Carlo (FM. Minus BangAdhi (HM) |
Minggu, 30 Agustus 2015
Dan hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Malemnya sempet Carbo Loading Homemade bikinan rame-rame. Menu-nya Spaghetti, Makaroni, Roti. Mayan, daripada jajan lagi kan, patungan belanja juga di carrefour sore-nya. Jadi Padang deh lu semua gue ajarin.
Berangkat dari Villa sekitar jam 04.15. Gun Start Full Marathon (FM) jam 05.00, Half Marathon jam 05.30. Tapi rombongan HM, MasYandra sama BliKholik juga ikutan berangkat bareng gue, Carlo, MasDidi. Langsung masuk antrian. Wuuuiihh.. Rame bener Bali Marathon emang dari tahun-tahun, jadi semangat buat nyobain pertamakali rute-nya. Super excited.
KM 0-5.
Karna disana Adzan Subuh jam 05.09, mau gak mau, gak bisa Subuhan dulu baru start. Untungnya panitia nyediain tempat Solat di sebelah kanan jalan, lengkap dengan toilet, ambil wudhu, dan karpet yg bisa nampung 10-15 orang. Jadi dari garis start udah bawa sarung, plus udah ambil wudhu sebelum berangkat. Rada berat di 5KM awal, harus nahan kesabaran karna dibalap-balapin sama orang, plus nahan kencing biar wudhu gak batal. Kebayang kalo sampe batal, harus antri lagi -_- Dan keputusan gue tepat. Toilet di tempat Solat rame, ngambil wudhu antri, dan sarung dipake gantian. Jadi begitu gue nyampe, buka sepatu, pake sarung, langsung Solat. Surat pendek aja, biar cepet :)) Carlo gantian pinjem sarung, gue lanjut duluan lari. Karna udah berat banget dan toilet antri panjang, akhirnya gue ngencing di pinggir jalan, maaf ya Bali, maaf ya panitia :O
KM 5-10
Ini masih luruuuuuusss aja, mulai nambah pace setelah 5 KM awal jogging, takut kalo ngebut, pas Solat kaki pada kram. Itung-itung pemanasan. Disini mulai balapin orang yg mau sok-sok-an cepet dari start, belom 10K udah engap.
KM 10-20
Mulai merasakan aura dari Bali Marathon. Tanjakan, penduduk yg support, anak-anak pada pake baju adat nyemangatin, dan suasana pedesaan yg penuh dengan pemandangan sawah, pohon rindang. Sama BANYAK ANJING MENGGONGGONG. Bikin mikir: "Sprint, kagak, sprint, kagak".
KM 20-21
Kenapa gue inget, karna di titik ini, ada cekungan parah. Turunan tajam (bener tajam, sampe elu harus ngerem biar gak gelinding), dilanjutin sama tanjakan sama pe'a-nya. Gokil dah. Panitia bilang pas lagi turunan: "Jangan ditahan Mas, lepasin aja". Palamu. Nyusruk yg ada nanti.
KM 21-30
Sebenernya di Bali Marathon, ini jarak yg sangat mempengaruhi hasil akhir elu. Kalo udah ngerasa capek, engap, lemes, bisa dipastikan gak akan sesuai target. Tapi kalo masih kuat, belum terlalu lelah, masih on the way ke target pribadi. Apalagi didukung sama tanjakan yg cukup panjang. Kemampuan Marathon elu bakal diuji banget disini. Dari KM5 gue gak pernah di salip sama pelari lain dari belakang, cuma sama 1 orang doang di sekitar KM ini, pake baju item tulisan #RUNMDN katanya sih anak Medan. Gile pas dia nyalip, adrenalin gue langsung terbakar, niat gak mau langsung nyalip lagi, tapi ikutin pace dia aja, dibelakangnya 2-3 meter. Tapi langsung keinget "Run With Your Own Pace". Mungkin bisa gue ngimbangin, tapi bakal habis di KM 30an. Silahkan Bang lewat..
KM 30-31
Kenapa gue inget lagi, di titik ini ada cekungan kedua!! Sedikit mirip sama cekungan pertama dari jarak sampe elevasi-nya. Turunan-tanjakan tajam. Edan. Banyak yg cuma berani jalan disini, karna emang rawan cedera kalo kaki gak begitu kuat nahan beban tubuh. Menyeramkan.
KM 31-40
Waaahh.. Ini udah rute kesukaan gue. Pertama, turunan panjaaaaanngg banget. Tapi turunan yg bisa nambah pace, bukan turunan kayak di 2 cekungan sebelumnya yg harus nahan badan. Dan juga udah gabung sama pelari HM yg mulai pada jalan kaki. Enak aja ngebalap orang, berasa kayak Kenyan :))
Udah gak kerasa lagi ini mah capek-nya, wong tinggal dikit lagi. Yang ada malah super ngebut (keliatan dari catatan waktu, negative split disini), dengan mikir: "Abisin ah tenaga gue, toh kalo udah beres bisa langsung duduk, tiduran, minum bir, makan babi, ML, semua bisa dilakuin. #sikaaaaattt".
FINIIIIIISSSSHH!!!
Yang paling keren dari Bali Marathon ini: TOILET DI RUMAH PENDUDUK. Mereka gak pake toilet portable kayak kebanyakan race. Mantab. Sayang aja gue gak nyobain salah satu-nya. Gimana mau nyobain kalo di tiap rumah ada anjing :(
Official Result:
Peringkat 65 dari 890 All Marathon Finishers.
Peringkat 48 dari 723 Male Marathon Finishers.
Peringkat 37 dari 790 All National Marathon Finishers.
Peringkat 27 dari 647 All National Male Marathon Finishers.
Artinya, dengan catatan waktu 4 jam 13 menit 49 detik, cuma ada 26 pelari pria nasional yg finish lebih cepat dari gue. Result yg aneh, waktu pertamakali keluar, gue peringkat 24 -__-
Tapi gak papa, buat Pelari Senang-Senang kayak gue, yang latian cuma 2x seminggu, itu juga kalo lagi kagak males, Not A Bad Result At All.
See You on My Next Marathon, Hope It'll be Tokyo.
AMIIIIEENNN..
"Before 26 I was concentrating on farming and had never run before",
Dennis Kimetto, 30, Marathon World Record Holder, 2 Hour and 2 Minutes.
#IfYouKnowWhatImean
#MariLari
NB: Untuk panitia, sarung gue ketinggalan di tempat Solaaaaattt.. Tolong kirimin ke Depoookk..
Selasa, 18 Agustus 2015
Istri Bekerja
Yang baru baca blog ini, mungkin belom tau sama sekali. Tapi yang udah jadi pembaca setia (#taelah), udah paham bener kalo saat menikah dengan Dewa 5,5 tahun yg lalu, status gue adalah PENGANGGURAN. Sedih yak.
Sebenernya waktu proses lamaran dan persiapan, gue merupakan karyawan bank swasta. Karna dinilai kurang berprestasi (dan mungkin rada urakan), kontrak diputus 3 bulan sebelum acara pernikahan berlangsung!! Udah kepalang tanggung, ya #sikaaaaatt aja tetep jalanin acara. Dewa juga saat itu baru meniti karir di dunia Treasury salah satu bank swasta milik tetangga sebelah. Lulus dari Program Treasury Development Program (TDP).
Kalo mau flashback lebih jauh, gue udah ngebet nikah sama Dewa itu sejak tahun 2007 (3 tahun lebih cepat dari acara sesungguhnya), karna udah bosen pacaran, udah bosen tiap abis jalan bareng, pulang kerumah masing-masing. Tapi ada beberapa kendala yang berhubungan sama kerjaan. Dari sisi gue, kebanyakan jadi pengangguran, karna emang pe'a kalo kerja jadi karyawan. Kalopun lagi punya kerjaan yg bebas nikah kapan aja, eh terkendala dari sisi Dewa. Dia baru lulus kuliah, belom bekerja. Atau masih dalam program yg dibuat oleh bank tempat dia bekerja, dimana belum boleh menikah untuk jangka waktu tertentu. Tapi kawin mah boleh kali ya. *becanda kampungan*
Waktu tahun 2007 tersebut, kebetulan gue punya pekerjaan cukup bagus (seenggaknya kalo lewat perbandingan gaji dengan temen-temen yg baru lulus, lebih gede yg gue dapet daripada mereka) di perusahaan besar pula. Tapi Dewa baru lulus dan lagi ikut-ikutan Job Fair, kirim lamaran sana-sini. Waktu gue mengutarakan niat pengen nikahin dia, dapat larangan dari Ibu. "Kamu kerja dulu. Kalo udah sama-sama kerja, baru boleh menikah", kira-kira demikian kata beliau. Agar rencana kami direstui, dan sebagai anak yg nurut, Dewa ikutin syarat dari Ibu-nya. Gue pribadi sih gak pernah nanya langsung kenapa harus ada syarat itu, tapi kalo menurut logika, Ibu gak mau Dewa nanti ketergantungan sama suami. Dan mungkin punya ketakutan, kalo suatu saat rumah tangga anak-nya bermasalah, suami-nya selingkuh, dia gak punya "bargain power" sama sekali. Karna hidup-nya sangat mengandalkan nafkah dari suami. Sehingga Ibu mau anaknya mandiri, setidaknya secara finansial, kalo worst case scenario terjadi, life can go on. Oh iya, By the way, Ibu juga bekerja sampe pensiun beberapa bulan lalu.
Karna dari awal-nya emang begitu, maka pernikahan yg kami bangun-pun berdasarkan asas "Kebersamaan". Gak ada yg lebih superior. Gue (dan juga Dewa) saling memilih satu sama lain karna merasa menemukan pasangan yang "Equal", dalam hal apapun. Pengertian ceteknya, kami sama-sama suka tertawa, membuat orang tertawa, dan menertawakan hidup. Kalo seriusnya, kami dari dulu hampir selalu dipercaya untuk memimpin sesuatu, entah itu organisasi, ataupun kelompok-kelompok kecil. I love to lead, so do Dewa.
Maka hal tersebut terbawa hingga ke pernikahan. Karna sama-sama suka mimpin, kami gak memposisikan diri saling diatas(meski kalo lagi h*rny berebutan posisi On-Top sih). Ya oke-lah, kalo Solat masih gue Imam-nya, ya kali Dewa jadi Imam -__- Tapi untuk lain-nya, kami akan rembukan untuk menentukan segala sesuatu. Sama-sama bikin anak, ya sama-sama ngurus-nya, sehingga gak akan kejadian di masa yg akan datang, kalo terjadi sesuatu yg tidak diinginkan: "GIMANA SIH KAMU NGEDIDIK ANAK??!!", gak perlu keluar kalimat tersebut dari salah satu diantara kami. Yang biasanya sih kalimat tersebut adalah privilege dari suami/Ayah. *ngangguk-ngangguk aje luh panjul baca ini*
Sama hal-nya saat menyinggung pekerjaan, dimana berhubungan dengan rezeki yang kami dapatkan untuk membangun keluarga ini. Karna sejak awal pernikahan, Dewa dalam posisi mempunyai penghasilan, gue enggak. Seiring berjalannya waktu, berkat support (kalo gak mau dibilang provokasi) istri pula, gue bisa mengimbangi penghasilan dia, bahkan untuk sekian lama, secara bulanan bisa mendapatkan diatas yg dia dapatkan. Meskipun kalo tahunan gak ngejar juga sih, gile doi kalo bulan Maret :(( Sehingga pembagian dalam hal pengeluaran pun dibagi sedemikian rupa, misalnya pengeluaran bulanan, cicilan, tanggung jawab gue. Dewa nge-handle Down Payment, uang masuk sekolah, biaya liburan atau biaya-biaya yg jangka waktu-nya tahunan. Semua temen-temen juga tau, kami bukan dari keluarga yg sangat berada, kalo bisa dibilang, berkecukupan saja. Gak dikasih rumah atau mobil sebagai hadiah pernikahan dari orangtua. Tidak diwariskan perusahaan yg tinggal dijalanin doang. Kami tidak seberuntung itu. Tapi alhamdulillah sekarang masih tetap berkecukupan (belum berada juga sih). Meski masih ngutang, punya tempat tinggal dan kendaraan sendiri. Masih bisa jalan-jalan tanpa perlu pinjam Kredit Tanpa Agunan. Adia bisa sekolah yg menurut kami cukup bagus, begitupula Carra nanti, Insya Allah. Tiap hari masih bisa kenyang perut. Meski kadang gue jarang jajan sama puasa sih biar ngirit. Pppfftt.
Mungkin, mungkin loh ya, kalo Ibu gak ngasih syarat Dewa harus bekerja, posisi kami gak akan kayak sekarang, saat gue nulis artikel ini.
Banyak yg bilang: "Perempuan itu kodrat-nya dirumah, sebagai istri, ngurus suami. Siapin suami saat hendak mencari nafkah, layani saat pulang kerumah. Masak, bikin air panas. Sebagai Ibu, ya tanggung-jawab ke anak juga, menjaga juga mendidik hingga menjadi manusia yg berguna". Gue sih setuju sama hal tersebut, sama sekali gak ada yg salah, tapi situasi kami saat ini belum menuju kearah sana. Berikut alasan-alasan-nya:
1. Dewa Jam Kerja Teratur.
Berangkat jam 06.30 dari rumah, paling lambat, jam 19.00 udah dirumah. Hampir gak pernah lembur, Sabtu-Minggu libur. Dan sama sekali gak pernah keluar kota (paling kalo lagi outing doang, itu juga semalem). Jadi dia gak ninggalin kewajiban-nya sebagai istri dan juga Ibu. Masih bisa ML sama gue tanpa ngerasa lelah seharian kerja, masih bisa bacain buku Adia sebelum tidur. Masih bisa mompa ASI dikantor, dan nenenin Carra dirumah.
2. Dewa Kerja-nya Enjoy.
Dikelilingi oleh teman-temen seperjuangan TDP yg sangat solid dari dulu. Rekan kerja lain yg gak nyebelin, bahkan atasan-atasan yg cukup dekat dengan dia. Kerjaan-nya pun tidak sering membuat stres (kalopun bikin stres palingan kalo dia lagi ceroboh salah transaksi). Dia masih bisa istirahat siang dengan tenang, malah suka jalan-jalan ke Mall bareng Bos-nya. Gak jarang suka nelpon kerumah buat ngomong sama anak-anak (atau emang pengen ngecek gue lagi dirumah apa enggak sih kayaknya -__-). Lagi dikantor pun masih suka SMS si Bibi atau Dina, anak-anak makannya gimana. Bisa begitu ya karna gak tersandera sama kerjaan, dia enjoy jalanin-nya.
3. Dewa Berpenghasilan Lumayan.
Gue rada males sih ngomong ini, karna situasinya gue lagi kalah, ngehe bener dah ah. Ya, sejak Dewa "dipromosikan" beberapa saat yg lalu, penghasilan bulanan dia meningkat drastis, dimana gue bisa ngimbangin kalo transaksi lagi bagus aja. Tahunan? Wah gue angkat tangan dah. Mokondo, mokondo dah gue jadi suami (untung gue melihara anakonda), kalo perlu resmi jadi Bapak Rumah Tangga :D ENAK AJA!! Gue juga gak mau kalah dong, justru yg begini bisa jadi motivasi untuk makin membesarkan bisnis, atau membuka bisnis lain. Makanya banyak yg bengong pas tau Dewa di Treasury: "Haaaahh??!! Elu Treasury Wa??!! Yang bener??!!". Njir, pada meragukan istri gue luh, kamfret. Yah, intinya sih Treasury itu adalah profit center, bukan hanya di bank. Logika-nya sederhana, siapa yg bisa ngasih sumbangsih profit ke perusahaan, maka "jatah" dia bakal lebih banyak dibanding yg hanya kerja berdasarkan prosedur, tanpa bikin profit.
4. Gue Kerja Dirumah.
Perusahaan kecil-kecilan yg gue jalanin sekarang ini, dulu masih numpang dirumah Ayah-Mama, karna masih tinggal disana. Begitu pindah rumah, gue kayak orang kerja biasa, berangkat dari rumah, ke "kantor" sama Adia, dan menyekolahkan Adia di playgroup deket rumah Ayah-Mama. Sampe akhirnya, pindah dirumah aja semenjak lahiran Carra, dan mindahin Adia sekolah juga di Depok. Demi efisiensi. Mulai saat itu, I'm A Working-At-Home-Dad. Anter-jemput Adia sekolah, ketempat les piano, ngaji sore, bisa ngawasin Carra dirumah, meski sesekali suka gangguin kerjaan. Kalo lagi ngantuk bisa tidur siang bareng. Yang bisa seorang Ibu lakukan, gue kayaknya bisa juga, kecuali tetek keluar susu sih. Meski tetep butuh bantuan 2 ART, karna kalo lagi banyak transaksi sedikit sulit kalo gak ada yg bantuin. Tapi setelah semua transaksi kelar, You're totally own my time, daughters..
5. Gue Kerja Fleksibel.
Sebenernya kerjaan gue saat ini gak perlu adanya "kantor", tapi karna itu syarat dari BI, mau gak mau harus ada. Karna dengan 1 buah laptop (tentu dengan jaringan internet), transaksi jalan, juga laporan bisa dikerjain. Baik daily report maupun report mingguan/bulanan buat BI dan PPATK. Kalo mau di fleksibelin lagi, hanya dengan bermodalkan smartphone yg bisa mobile banking, semua bisa jalan transaksi. Paling bikin report doang yg tertunda karna harus pake PC/laptop. Meski gak pernah punya cuti (liburan pun masih ngurusin kerjaan), tapi selama masih bisa jalanin hobi olahraga kayak maen bola, futsal, lari, ML beberapa kali dalam seminggu, berarti hidup gue belom tersandera sama kerjaan.
6. Gue Bisa Punya Profit Lumayan.
Gue gak pernah mau dibilang sebagai pengusaha, lebih enak nyebut diri sendiri, Self Employed. Karna gue gak punya karyawan, gak pernah masuk majalah "Wirausaha", gak pernah jadi pengisi acara Entrepreneurship, boro-boro jadi motivator atau teladan, buat calon-calon karyawan maupun mahasiswa baru yg mau jadi pengusaha. Beban kata "pengusaha" terlalu berat buat bisnis ecek-ecek yg gue jalanin. Gak perlu dibilang pengusaha biar keliatan keren, selama bisa ngehasilin profit yg cukup buat keluarga, dibilang kerja serabutan juga gak ada masalah. Karna gue gak terlalu suka mikirin gengsi dengan label tertentu. Gengsi gak bisa bikin kenyang, gengsi gak bisa bayarin gue untuk ikutan Marathon di-sana-sini. #saik Lagian kerjaan gue sekarang lebih menghasilkan daripada gaji 3 tempat dulu gue pernah kerja, digabungin, meski udah sama inflasi 8 tahun. Digabungin!! Mau apa lu Bos-Bos lama gue dulu haaahh??!! Gak mau gue balik lagi kesana!! #LahSiapaYangNawarin
6 alasan diatas cukup bagi gue, juga Dewa, kenapa dia bekerja sampe detik ini.
Bukan, tulisan ini gak offence sama elu yg jadi Ibu Rumah Tangga, sama sekali bukan. Gak akan ada habisnya kalo terus nge-challenge Ibu Bekerja Vs Ibu Rumah Tangga, karna semua punya keputusan dan pilihan sendiri-sendiri. Kebetulan aja, gue sama Dewa milih untuk begini. Dia Bekerja, Gue Bekerja.
Poin utama dari gue nulis ini sebenernya simpel aja, gue sebagai suami, SUPPORT apapun yg dilakukan oleh Istri, tentu apabila hal tersebut positif.
Dalam hal ini, gue SUPPORT Dewa untuk bekerja.
Kalo misalnya, Dewa terus mau menapaki karir yang udah dia bangun dari bawah di kantornya sekarang, sampe mentok menjadi CEO misalnya, ya gue bakal SUPPORT.
Kalo misalnya, Dewa dapat tawaran di tempat lain dengan situasi yg berbeda (misal kerja lebih berat, sering keluar kota, dll), selama dia mau, dan worth it untuk diambil kesempatan tersebut, ya gue bakal SUPPORT.
Kalo misalnya, Dewa dapet beasiswa untuk melanjutkan pendidikan diluar negeri, dan gue-Adia-Carra harus ikut, ya tinggal terusin bisnis ini disana (toh fleksibel kan), ya gue bakal SUPPORT.
Kalo misalnya, Dewa udah capek untuk bekerja, dan memutuskan untuk resign, menjadi Ibu Rumah Tangga, sehingga gue harus bekerja lebih keras untuk "menutupi" penghasilan-nya, ya gue bakal SUPPORT.
Banyak bersyukur aja udah. Diluar sana mungkin banyak pasangan yg tidak seberuntung kami:
- Ayah-Ibu sama-sama bekerja, tapi lebih fokus karir. Kebutuhan materi tercukupi, tapi (misalnya) ternyata si Ayah ganti popok aja gak bisa, Ibu gak mau nenenin anak karna takut payudara kendor merusak penampilan di kantor. Anak jadi lebih deket ke babysitter atau ART.
- Ayah-Ibu sama-sama bekerja. Udah mana waktu sama anak berkurang, penghasilan pas-pasan pula hanya cukup untuk kebutuhan pokok, makan dan pakaian, tapi kebutuhan lain gak sanggup terpenuhi.
Di Pernikahan kami, ego udah bukan isu penting lagi untuk dibahas, tapi saling support atas keputusan masing-masing adalah hal yg paling utama. Gengsi ke suami atau istri seharusnya sudah dibuang jauh-jauh saat mengucapkan Ijab Kabul dan janji setia sehidup-semati, karna pada akhirnya seorang pasangan menikah akan menghabiskan sisa hidupnya berdua, tanpa anak-anak. Iya, karna anak-anak cepat atau lambat akan memisahkan diri dari kita, dan membentuk keluarga baru. Kalo pondasi disitunya aja gak kuat, gimana mau sampe kakek-nenek hidup bersama pasangan?
Sebenernya waktu proses lamaran dan persiapan, gue merupakan karyawan bank swasta. Karna dinilai kurang berprestasi (dan mungkin rada urakan), kontrak diputus 3 bulan sebelum acara pernikahan berlangsung!! Udah kepalang tanggung, ya #sikaaaaatt aja tetep jalanin acara. Dewa juga saat itu baru meniti karir di dunia Treasury salah satu bank swasta milik tetangga sebelah. Lulus dari Program Treasury Development Program (TDP).
Kalo mau flashback lebih jauh, gue udah ngebet nikah sama Dewa itu sejak tahun 2007 (3 tahun lebih cepat dari acara sesungguhnya), karna udah bosen pacaran, udah bosen tiap abis jalan bareng, pulang kerumah masing-masing. Tapi ada beberapa kendala yang berhubungan sama kerjaan. Dari sisi gue, kebanyakan jadi pengangguran, karna emang pe'a kalo kerja jadi karyawan. Kalopun lagi punya kerjaan yg bebas nikah kapan aja, eh terkendala dari sisi Dewa. Dia baru lulus kuliah, belom bekerja. Atau masih dalam program yg dibuat oleh bank tempat dia bekerja, dimana belum boleh menikah untuk jangka waktu tertentu. Tapi kawin mah boleh kali ya. *becanda kampungan*
Waktu tahun 2007 tersebut, kebetulan gue punya pekerjaan cukup bagus (seenggaknya kalo lewat perbandingan gaji dengan temen-temen yg baru lulus, lebih gede yg gue dapet daripada mereka) di perusahaan besar pula. Tapi Dewa baru lulus dan lagi ikut-ikutan Job Fair, kirim lamaran sana-sini. Waktu gue mengutarakan niat pengen nikahin dia, dapat larangan dari Ibu. "Kamu kerja dulu. Kalo udah sama-sama kerja, baru boleh menikah", kira-kira demikian kata beliau. Agar rencana kami direstui, dan sebagai anak yg nurut, Dewa ikutin syarat dari Ibu-nya. Gue pribadi sih gak pernah nanya langsung kenapa harus ada syarat itu, tapi kalo menurut logika, Ibu gak mau Dewa nanti ketergantungan sama suami. Dan mungkin punya ketakutan, kalo suatu saat rumah tangga anak-nya bermasalah, suami-nya selingkuh, dia gak punya "bargain power" sama sekali. Karna hidup-nya sangat mengandalkan nafkah dari suami. Sehingga Ibu mau anaknya mandiri, setidaknya secara finansial, kalo worst case scenario terjadi, life can go on. Oh iya, By the way, Ibu juga bekerja sampe pensiun beberapa bulan lalu.
Karna dari awal-nya emang begitu, maka pernikahan yg kami bangun-pun berdasarkan asas "Kebersamaan". Gak ada yg lebih superior. Gue (dan juga Dewa) saling memilih satu sama lain karna merasa menemukan pasangan yang "Equal", dalam hal apapun. Pengertian ceteknya, kami sama-sama suka tertawa, membuat orang tertawa, dan menertawakan hidup. Kalo seriusnya, kami dari dulu hampir selalu dipercaya untuk memimpin sesuatu, entah itu organisasi, ataupun kelompok-kelompok kecil. I love to lead, so do Dewa.
Maka hal tersebut terbawa hingga ke pernikahan. Karna sama-sama suka mimpin, kami gak memposisikan diri saling diatas
Sama hal-nya saat menyinggung pekerjaan, dimana berhubungan dengan rezeki yang kami dapatkan untuk membangun keluarga ini. Karna sejak awal pernikahan, Dewa dalam posisi mempunyai penghasilan, gue enggak. Seiring berjalannya waktu, berkat support (kalo gak mau dibilang provokasi) istri pula, gue bisa mengimbangi penghasilan dia, bahkan untuk sekian lama, secara bulanan bisa mendapatkan diatas yg dia dapatkan. Meskipun kalo tahunan gak ngejar juga sih, gile doi kalo bulan Maret :(( Sehingga pembagian dalam hal pengeluaran pun dibagi sedemikian rupa, misalnya pengeluaran bulanan, cicilan, tanggung jawab gue. Dewa nge-handle Down Payment, uang masuk sekolah, biaya liburan atau biaya-biaya yg jangka waktu-nya tahunan. Semua temen-temen juga tau, kami bukan dari keluarga yg sangat berada, kalo bisa dibilang, berkecukupan saja. Gak dikasih rumah atau mobil sebagai hadiah pernikahan dari orangtua. Tidak diwariskan perusahaan yg tinggal dijalanin doang. Kami tidak seberuntung itu. Tapi alhamdulillah sekarang masih tetap berkecukupan (belum berada juga sih). Meski masih ngutang, punya tempat tinggal dan kendaraan sendiri. Masih bisa jalan-jalan tanpa perlu pinjam Kredit Tanpa Agunan. Adia bisa sekolah yg menurut kami cukup bagus, begitupula Carra nanti, Insya Allah. Tiap hari masih bisa kenyang perut. Meski kadang gue jarang jajan sama puasa sih biar ngirit. Pppfftt.
Mungkin, mungkin loh ya, kalo Ibu gak ngasih syarat Dewa harus bekerja, posisi kami gak akan kayak sekarang, saat gue nulis artikel ini.
Banyak yg bilang: "Perempuan itu kodrat-nya dirumah, sebagai istri, ngurus suami. Siapin suami saat hendak mencari nafkah, layani saat pulang kerumah. Masak, bikin air panas. Sebagai Ibu, ya tanggung-jawab ke anak juga, menjaga juga mendidik hingga menjadi manusia yg berguna". Gue sih setuju sama hal tersebut, sama sekali gak ada yg salah, tapi situasi kami saat ini belum menuju kearah sana. Berikut alasan-alasan-nya:
1. Dewa Jam Kerja Teratur.
Berangkat jam 06.30 dari rumah, paling lambat, jam 19.00 udah dirumah. Hampir gak pernah lembur, Sabtu-Minggu libur. Dan sama sekali gak pernah keluar kota (paling kalo lagi outing doang, itu juga semalem). Jadi dia gak ninggalin kewajiban-nya sebagai istri dan juga Ibu. Masih bisa ML sama gue tanpa ngerasa lelah seharian kerja, masih bisa bacain buku Adia sebelum tidur. Masih bisa mompa ASI dikantor, dan nenenin Carra dirumah.
2. Dewa Kerja-nya Enjoy.
Dikelilingi oleh teman-temen seperjuangan TDP yg sangat solid dari dulu. Rekan kerja lain yg gak nyebelin, bahkan atasan-atasan yg cukup dekat dengan dia. Kerjaan-nya pun tidak sering membuat stres (kalopun bikin stres palingan kalo dia lagi ceroboh salah transaksi). Dia masih bisa istirahat siang dengan tenang, malah suka jalan-jalan ke Mall bareng Bos-nya. Gak jarang suka nelpon kerumah buat ngomong sama anak-anak (atau emang pengen ngecek gue lagi dirumah apa enggak sih kayaknya -__-). Lagi dikantor pun masih suka SMS si Bibi atau Dina, anak-anak makannya gimana. Bisa begitu ya karna gak tersandera sama kerjaan, dia enjoy jalanin-nya.
3. Dewa Berpenghasilan Lumayan.
Gue rada males sih ngomong ini, karna situasinya gue lagi kalah, ngehe bener dah ah. Ya, sejak Dewa "dipromosikan" beberapa saat yg lalu, penghasilan bulanan dia meningkat drastis, dimana gue bisa ngimbangin kalo transaksi lagi bagus aja. Tahunan? Wah gue angkat tangan dah. Mokondo, mokondo dah gue jadi suami (untung gue melihara anakonda), kalo perlu resmi jadi Bapak Rumah Tangga :D ENAK AJA!! Gue juga gak mau kalah dong, justru yg begini bisa jadi motivasi untuk makin membesarkan bisnis, atau membuka bisnis lain. Makanya banyak yg bengong pas tau Dewa di Treasury: "Haaaahh??!! Elu Treasury Wa??!! Yang bener??!!". Njir, pada meragukan istri gue luh, kamfret. Yah, intinya sih Treasury itu adalah profit center, bukan hanya di bank. Logika-nya sederhana, siapa yg bisa ngasih sumbangsih profit ke perusahaan, maka "jatah" dia bakal lebih banyak dibanding yg hanya kerja berdasarkan prosedur, tanpa bikin profit.
4. Gue Kerja Dirumah.
Perusahaan kecil-kecilan yg gue jalanin sekarang ini, dulu masih numpang dirumah Ayah-Mama, karna masih tinggal disana. Begitu pindah rumah, gue kayak orang kerja biasa, berangkat dari rumah, ke "kantor" sama Adia, dan menyekolahkan Adia di playgroup deket rumah Ayah-Mama. Sampe akhirnya, pindah dirumah aja semenjak lahiran Carra, dan mindahin Adia sekolah juga di Depok. Demi efisiensi. Mulai saat itu, I'm A Working-At-Home-Dad. Anter-jemput Adia sekolah, ketempat les piano, ngaji sore, bisa ngawasin Carra dirumah, meski sesekali suka gangguin kerjaan. Kalo lagi ngantuk bisa tidur siang bareng. Yang bisa seorang Ibu lakukan, gue kayaknya bisa juga, kecuali tetek keluar susu sih. Meski tetep butuh bantuan 2 ART, karna kalo lagi banyak transaksi sedikit sulit kalo gak ada yg bantuin. Tapi setelah semua transaksi kelar, You're totally own my time, daughters..
![]() |
| Pemandangan Dari Meja Kerja |
Sebenernya kerjaan gue saat ini gak perlu adanya "kantor", tapi karna itu syarat dari BI, mau gak mau harus ada. Karna dengan 1 buah laptop (tentu dengan jaringan internet), transaksi jalan, juga laporan bisa dikerjain. Baik daily report maupun report mingguan/bulanan buat BI dan PPATK. Kalo mau di fleksibelin lagi, hanya dengan bermodalkan smartphone yg bisa mobile banking, semua bisa jalan transaksi. Paling bikin report doang yg tertunda karna harus pake PC/laptop. Meski gak pernah punya cuti (liburan pun masih ngurusin kerjaan), tapi selama masih bisa jalanin hobi olahraga kayak maen bola, futsal, lari, ML beberapa kali dalam seminggu, berarti hidup gue belom tersandera sama kerjaan.
6. Gue Bisa Punya Profit Lumayan.
Gue gak pernah mau dibilang sebagai pengusaha, lebih enak nyebut diri sendiri, Self Employed. Karna gue gak punya karyawan, gak pernah masuk majalah "Wirausaha", gak pernah jadi pengisi acara Entrepreneurship, boro-boro jadi motivator atau teladan, buat calon-calon karyawan maupun mahasiswa baru yg mau jadi pengusaha. Beban kata "pengusaha" terlalu berat buat bisnis ecek-ecek yg gue jalanin. Gak perlu dibilang pengusaha biar keliatan keren, selama bisa ngehasilin profit yg cukup buat keluarga, dibilang kerja serabutan juga gak ada masalah. Karna gue gak terlalu suka mikirin gengsi dengan label tertentu. Gengsi gak bisa bikin kenyang, gengsi gak bisa bayarin gue untuk ikutan Marathon di-sana-sini. #saik Lagian kerjaan gue sekarang lebih menghasilkan daripada gaji 3 tempat dulu gue pernah kerja, digabungin, meski udah sama inflasi 8 tahun. Digabungin!! Mau apa lu Bos-Bos lama gue dulu haaahh??!! Gak mau gue balik lagi kesana!! #LahSiapaYangNawarin
6 alasan diatas cukup bagi gue, juga Dewa, kenapa dia bekerja sampe detik ini.
Bukan, tulisan ini gak offence sama elu yg jadi Ibu Rumah Tangga, sama sekali bukan. Gak akan ada habisnya kalo terus nge-challenge Ibu Bekerja Vs Ibu Rumah Tangga, karna semua punya keputusan dan pilihan sendiri-sendiri. Kebetulan aja, gue sama Dewa milih untuk begini. Dia Bekerja, Gue Bekerja.
Poin utama dari gue nulis ini sebenernya simpel aja, gue sebagai suami, SUPPORT apapun yg dilakukan oleh Istri, tentu apabila hal tersebut positif.
Dalam hal ini, gue SUPPORT Dewa untuk bekerja.
Kalo misalnya, Dewa terus mau menapaki karir yang udah dia bangun dari bawah di kantornya sekarang, sampe mentok menjadi CEO misalnya, ya gue bakal SUPPORT.
Kalo misalnya, Dewa dapat tawaran di tempat lain dengan situasi yg berbeda (misal kerja lebih berat, sering keluar kota, dll), selama dia mau, dan worth it untuk diambil kesempatan tersebut, ya gue bakal SUPPORT.
Kalo misalnya, Dewa dapet beasiswa untuk melanjutkan pendidikan diluar negeri, dan gue-Adia-Carra harus ikut, ya tinggal terusin bisnis ini disana (toh fleksibel kan), ya gue bakal SUPPORT.
Kalo misalnya, Dewa udah capek untuk bekerja, dan memutuskan untuk resign, menjadi Ibu Rumah Tangga, sehingga gue harus bekerja lebih keras untuk "menutupi" penghasilan-nya, ya gue bakal SUPPORT.
Banyak bersyukur aja udah. Diluar sana mungkin banyak pasangan yg tidak seberuntung kami:
- Ayah-Ibu sama-sama bekerja, tapi lebih fokus karir. Kebutuhan materi tercukupi, tapi (misalnya) ternyata si Ayah ganti popok aja gak bisa, Ibu gak mau nenenin anak karna takut payudara kendor merusak penampilan di kantor. Anak jadi lebih deket ke babysitter atau ART.
- Ayah-Ibu sama-sama bekerja. Udah mana waktu sama anak berkurang, penghasilan pas-pasan pula hanya cukup untuk kebutuhan pokok, makan dan pakaian, tapi kebutuhan lain gak sanggup terpenuhi.
Di Pernikahan kami, ego udah bukan isu penting lagi untuk dibahas, tapi saling support atas keputusan masing-masing adalah hal yg paling utama. Gengsi ke suami atau istri seharusnya sudah dibuang jauh-jauh saat mengucapkan Ijab Kabul dan janji setia sehidup-semati, karna pada akhirnya seorang pasangan menikah akan menghabiskan sisa hidupnya berdua, tanpa anak-anak. Iya, karna anak-anak cepat atau lambat akan memisahkan diri dari kita, dan membentuk keluarga baru. Kalo pondasi disitunya aja gak kuat, gimana mau sampe kakek-nenek hidup bersama pasangan?
| There's a BIG reason why I marry you. Do what you love, I'll support it as your man!! |
Langganan:
Postingan (Atom)















